ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA : Sultan HB X Memodifikasi Iring-iringan Pengantin

JIBI/Desi SuryantoGKR Hayu bersama KPH Notonegoro melambaikan tangan kepada ribuan warga masyarakat yang menyaksikan kirab Dhaup Ageng mereka saat melintasi jalan Trikora, A.Yani dan Malioboro hingga Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (23/10 - 2013). Ribuan warga masyarakat datang untuk menyaksikan kirab 12 kereta kencana yang membawa rombongan pernikahan putri ke/4 Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut menuju tempat resepsi di Kepatihan.
24 Oktober 2013 00:30 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Ratusan ribu warga Jogja tumpah ruah di sepanjang jalan antara Kraton dan Kepatihan menyaksikan kirab Dhaup Ageng, Rabu (23/10/2013).

Antusias warga untuk menyaksikan iring-iringan kereta itu sudah terlihat sejak pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Rombongan kereta manten diberangkatkan dari Keben sekitar pukul 08.30 WIB diikuti dengan empat kereta pengiringnya. Setelahnya, menyusul kereta rombongan HB X dan permaisurinya, beserta anak-anaknya. Dan, rombongan keluarga Paku Alam IX yang berangkat dari Pagelaran Kraton.

Duduk di atas Kereta Kanjeng Kyai Jogwiyat, dengan menggunakan busana paes ageng Jangan Menir bewarna hijau toska, http://www.harianjogja.com/?p=458950" target="_blank">pasangan manten Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro diarak dari Kraton menuju Bangsal Kepatihan, tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan.

Iring-iringan pengantin ini merupakan cara lama, peninggalan Hamengku Buwono VII untuk memboyong manten ke tempat resepsi di Bangsal Kepatihan.

Hanya, dahulu pengantin perempuan ditandu, sementara pengantin laki-laki berada di atas kuda.

Sri Sultan Hamengku Buwono X memodifikasi prosesi itu untuk mengenalkan keluarga Kraton ke masyarakat, sekaligus memancing geliatnya pariwisata Kota Jogja.

Cara ini, menurut Sultan, sebagaimana yang tersirat dalam film Dhaup Ageng yang diputar di Bioskop Empire XXI bersamaan dengan pernikahan GKR Hayu- juga menjadi solusi, karena berdasarkan tradisi Kraton, tidak mungkin ia kembali mengulang kirab pernikahan GKR Pembayun, putri sulungnya kepada anak-anak lainnya untuk mengelilingi benteng. Kirab khusus dilakukan untuk anak pertama.

Rombongan kereta Sultan berada di belakang kereta temanten. Ada total 12 kereta yang dikeluarkan dari Museum Keraton. Adalah kereta Wimono Putro yang dinaiki Sultan ditarik dengan kuda terbanyak, yakni empat pasang.

Kereta Sultan ini membuka jalan untuk enam kereta di belakangnya yang dinaiki putrinya dan keluarga Paku Alam IX. Dengan menggunakan busana adat bercorak biru, Sultan berulang kali melambaikan tangannya dari jendela Kereta Kiai Wimono Putro yang dinaikinya bersama permaisurinya, GKR Hemas. (Andreas Tri Pamungkas/Pamuji Tri Nastiti/Kuniyanto/JIBI)