Seniman ARTJOG Soroti Dugaan Represi, Tuntut Ruang Ekspresi Terbuka
Dugaan tindakan represif terhadap seniman saat ARTJOG 2026 menuai protes. Koalisi Artjokes mendesak kebebasan berekspresi dihormati.
Suasana kawasan Malioboro, Jogja. - dok/Harianjogja
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya menjaga kelancaran lalu lintas dan kualitas ruang publik di kawasan Sumbu Filosofi mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menyiapkan skema baru pengaturan bus wisata, termasuk penyediaan sejumlah lokasi parkir alternatif di luar pusat kota.
Kebijakan tersebut mulai diterapkan tahun ini seiring rencana pembatasan bus wisata agar tidak lagi melintas di kawasan inti Sumbu Filosofi, khususnya di sekitar Titik Nol Kilometer. Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari penataan kawasan bersejarah sekaligus untuk menekan kepadatan arus kendaraan.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menjelaskan, bus wisata nantinya tidak diperbolehkan masuk ke area objek wisata di pusat kota. Pemkot, kata dia, telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung agar pergerakan wisatawan tetap berjalan tanpa mengganggu kawasan inti.
“Rencananya tahun ini objek wisata dilarang untuk dimasuki bus. Kita siapkan fasilitas penunjang, termasuk lokasi parkir bus selain di Senopati,” ujar Hasto, Jumat (23/1/2026).
Menurut Hasto, bus wisata yang datang dari arah barat tidak lagi diizinkan parkir di sekitar kawasan barat Titik Nol Kilometer, termasuk area seberang RS PKU Muhammadiyah. Kebijakan ini ditujukan agar bus yang tidak memiliki kepentingan khusus tidak lagi melintasi kawasan tersebut.
“Bus dari barat basis parkirnya penuh di TKP Ngabean. Jadi tidak ada alasan untuk lewat Titik Nol,” katanya.
Sementara itu, bus wisata dari arah timur yang selama ini memanfaatkan Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati akan dialihkan secara bertahap ke sejumlah lokasi parkir alternatif. Pemkot Jogja menyiapkan Terminal Giwangan dan Taman Hiburan Rakyat (THR) Purawisata sebagai lokasi pengganti.
“Senopati nanti kita distribusikan parkir kendaraan, sebagian ke Giwangan, sebagian ke THR,” jelasnya.
Selain dua lokasi tersebut, Pemkot Jogja juga membuka peluang kerja sama dengan sejumlah titik lain yang dinilai memiliki daya tampung memadai. Salah satu lokasi yang dipertimbangkan adalah Gembira Loka Zoo, yang dinilai siap menjadi kantong parkir tambahan saat terjadi lonjakan kendaraan wisata.
“Kami belum matur rencana parkir di Gembira Loka Zoo, tapi jika memungkinkan akan kerja sama. Kapasitasnya sekitar 50 bus. Untuk parkir saja sudah siap,” kata Hasto.
Ia menambahkan, kawasan Menara Kopi juga masuk dalam daftar lokasi yang disiapkan sebagai tempat parkir bus wisata. Area tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 20–30 bus, sehingga dapat menjadi alternatif tambahan dalam pengaturan arus kendaraan wisata di Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dugaan tindakan represif terhadap seniman saat ARTJOG 2026 menuai protes. Koalisi Artjokes mendesak kebebasan berekspresi dihormati.
RSUD Panembahan Senopati Bantul menyoroti berbagai kendala sistem rujukan BPJS Kesehatan yang masih sering dikeluhkan pasien dalam layanan JKN.
Kenduri Jenang Suran di Pringgokusuman kembali digelar sebagai tradisi syukur Tahun Baru Jawa sekaligus upaya melestarikan budaya Kota Jogja.
Mahasiswa UGM menjalankan KKN di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, dengan program digitalisasi desa, pengembangan wisata, dan olahan sirup mangrove.
Dosen UMY mengungkap penyebab masyarakat sulit menabung. Gaya hidup konsumtif, minim target keuangan, dan lemahnya dana darurat menjadi faktor utama.
Gempa magnitudo 4,4 mengguncang Sigi, Sulawesi Tengah. BMKG mencatat sudah terjadi 1.374 gempa susulan pascagempa M 6,7.