Bantul Usulkan Kenaikkan HET Elpiji 3 Kg

Tabung gas elpiji 3 kilogram (kg). (Dok/JIBI - Solopos)
18 Februari 2014 11:05 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Pemkab Bantul mengusulkan kenaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) gas elpiji ukuran 3 kilogram ke Gubernur DIY. Kenaikkan HET bertujuan menekan harga jual gas bersubsidi yang kini kian tak terkendali.

Seperti diketahui, harga jual gas ukuran 3 kg ke konsumen kini menembus hingga Rp20.000 per tabung lantaran langkanya gas elpiji tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Sulistyanta menyatakan, kelangkaan gas elpiji yang berimbas pada kenaikkan harga jual tersebut disinyalir karena banyak gas elpiji yang dijual ke luar daerah seperti Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, atau daerah di sekitar DIY.

Pasalnya, di daerah tetangga HET gas 3 kg (harga pembelian gas dari pengecer ke pangkalan) sudah dinaikkan menjadi Rp13.000 lebih hingga Rp14.000 per tabung. Alhasil, harga jual dari pengecer ke konsumen di Klaten dan sekitarnya juga naik.

Sementara di Jogja, HET gas bersubsidi tetap di harga Rp13.000 per tabung. Rendahnya HET ditengarai menyebabkan banyak pengecer menjual gas ke luar daerah karena lebih menguntungkan dibanding dijual di Jogja.

Dampaknya, gas di Jogja termasuk Bantul menjadi langka. Ditambah lagi, setelah kenaikkan harga gas non subsidi 12 kg, banyak konsumen berpindah ke gas 3 kg. Pemkab Bantul mencatat, daerah ini kekurangan 3.000 tabung per hari.

Karenanya, kata Sulistyanta, Pemkab Bantul mengusulkan penyesuaian atau kenaikan HET ke Gubernur agar tidak ada lagi penjualan gas ke luar daerah.

"Pertimbangannya karena ada kenaikan UMK [Upah Minimum Kabupaten], kenaikkan harga bahan bakar sehingga ongkos transportasi pengecer atau pangkalan pasti juga naik," terangnya Senin (17/2/2014).

Ia yakin, dengan kenaikkan HET, tidak ada lagi gas yang dijual ke luar daerah, sehingga kelangkaan gas di Bantul dapat diatasi. Dengan demikian, maka harga jual di pasaran atau ke konsumen akan terkendali. Atau di bawah harga sekarang yang mencapai Rp19.000-Rp20.000 per tabung.

"Normalnya dengan HET sekarang. Harga di konsumen itu Rp14.500 sampai Rp15.500. Dengan kenaikkan HET kemungkinan menjadi Rp16.000. Jadi tetap di bawah harga sekarang yang melambung tinggi karena gas langka," jelasnya.

Sulistyanta menambahkan, usulan kenaikkan HET sudah dilayangkan ke Gubernur pekan lalu dan ditembuskan ke PT. Pertamina.

Pemerintah DIY bersama PT. Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional (Hiswana) Minyak dan Gas (Migas) dipastikan bakal membahas usulan tersebut untuk diambil kebijakkan.