DAMARDJATI DIMAKAMKAN : Manusia Nyaris yang Pancasilais

19 Februari 2014 08:10 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Guru besar filsafat UGM  Prof. Damardjati Supadjar
yang meninggal pada Senin (17/2/2014) dimakamkan pada Selasa (18/2/2014) di Magelang. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Abdul Hamied Razak.

Ratusan pelayat memadati ruangan Balairung, Selasa siang. Mereka datang untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada seorang filosof dan peletak dasar filsafat Jawa Nusantara yang meninggal pada usia 74.

Sejumlah sahabat, kolega dan pejabat di lingkungan UGM dan pemerintahan turut menghadiri pemberangkatan jenazah Damarjati.
Bersama isteri Damarjati, Sri Winarni dan empat orang anak Nurma Diani, Garba Pradapa, Bawa Mahastu dan Ajar Nuhoni, mereka menyaksikan jenazah almarhum sebelum dikebumikan di makam keluarga Yusodipuro wilayah Grabag, Magelang, Jawa Tengah.

Suasana haru terasa saat Wakil Dekan Fakultas Filsafat UGM Mustofa Anshori Lidinillah mewakili keluarga menjabarkan sosok Damardjati.
“Beliau dikenal sebagai sosok yang ramah, humoris, murah senyum dan tenang. Setiap kata yang dilontarkannya berbobot karena memiliki makna yang dalam. Jika kita sadari, banyak hikmat dan makna di dalam setiap perkataannya," ujarnya, diiringi isak tangis Sri Winarni.

Menurut Mustofa, Damardjati semasa hidupnya telah menjadi manusia yang “nyaris”. Pada semester akhir pendidikan tingginya, Damardjati nyaris menjadi sarjana psikologi, namun ia memilih berbelok menjadi sarjana filsafat. Saat menempuh pendidikan filsafatnya pun, Damarjati nyaris terkena drop out. Bahkan, saat ingin menjadi guru besar, beliau nyaris tidak jadi. “Saat ingin naik haji, beliau pun nyaris tidak jadi dan akhirnya jadi juga menunaikan ibadah tersebut," imbuhnya.

Damardjati kelahiran Magelang, 30 Maret 1940 mewariskan pemikirannya dalam berbagai buku, seperti: Filsafat Ketuhanan Menurut Alfred North Whithead, Mawas Diri, Nawangsari dan Sumurupa Byar-e.

Rektor UGM Prof. Pratikno mengakui, sepanjang hidupnya, Damardjati memiliki komitmen terhadap UGM dan Indonesia. Sebagai akademisi, Damardjati dinilai sebagai ilmuan andal, pendidik inspiratif dengan penuh kesederhanaan. Damardjati pun dikenal sebagai pribadi yang unik dan khas serta mampu menginspirasi orang lain.

“Beliaulah yang menginisiasi dan mengenalkan metodologi filsafat Jawa dan Nusantara yang berbeda dengan ilmu filsafat dunia. Dalam berfilsafat, kekhasan beliau tidak hanya logika tapi juga rasa berperan dalam analisis tersebut," ungkapnya dalam acara penghormatan di Balairung UGM.

Sosok Damardjati juga berjasa karena mengembalikan ingatan bangsa Indonesia khususnya UGM untuk kembali pada ideologi Pancasila. Di kala Pancasila mengalami krisis bahkan tidak lagi menarik bagi kalangan akademisi, Damardjati bersama rekan-rekannya justru membidangi lahirnya Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM pada 1996 silam.