DAMPAK LETUSAN KELUD : Pasien Asma di Sleman Meningkat

JIBI/Solopos/Agoes RudiantoWarga menjual masker di Jl. Adisucipto, Solo, Jumat (14 - 2). Hujan abu yang mengguyur Kota Solo sebagai dampak erupsi Gunung Kelud di Kediri menjadi ladang rejeki dadakan bagi warga yang menjual masker di pinggir jalan.
19 Februari 2014 13:24 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pasien penderita asma (asthma) di rumah sakit meningkat pasca hujan abu vulkanik Gunung Kelud. Debu abu vulkanik memang menjadi pemicu kuat kambuhnya penyakit bagi para penderita asma.

“ISPA [Infeksi Saluran Pernapasan Atas] juga ada, tapi lebih cenderung ke asma yang meningkat sekali,” kata Emy Andrini, saat ditemui di gedung Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Islam Yogyakarta (RSIY) PDHI Kalasan, Senin (17/2/2014) sore.

Dikatakan Emy Andrini, pasien penderita asma yang ditangani sejak Jumat (14/2/2014) memang lebih banyak daripada hari biasa.

“Kamis sebelum hujan abu ada tiga pasien asma. Rata-rata memang tiga hingga empat pasien per hari. Lalu pada Jumat ada lima pasien asma, Sabtu tujuh pasien dan Minggu enam pasien,” paparnya.

Pasien yang datang dalam keadaan sesak napas beberapa di antaranya harus menjalani rawat inap.

Lebih lanjut Emy Andrini mengungkapkan, ada pasien yang memang tidak disiplin menggunakan masker. Padahal masker berguna untuk menghindari paparan alergen, polutan, dan iritan.

“Bahkan di dalam ruangan juga sebaiknya tetap terlindung masker,” tambahnya.

Dia menyarankan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, di antaranya dengan banyak minum air dan mengonsumsi vitamin.