Loh, Bukan Honorer tapi Lolos Ujian CPNS K2

22 Februari 2014 14:00 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Perwakilan Persatuan Honorer Sekolah Negeri Indonesia (PHSNI) Sleman mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman, untuk mempertanyakan kebijakan perekrutan CPNS, Jumat (21/2/2014).

Rombongan diterima Anggota Komisi C, Huda Tri Yudiana di ruang Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dalam pwertemuan itu, mereka menanyakan adanya empat nama orang yang lolos ujian CPNS tenaga honorer kategori dua (K2), padahal sudah tidak terdaftar sebagai tenaga honorer di Sleman.

Salah satu perwakilan PHSNI Sigit Haryanto mengatakan, ada seorang guru yang sebenarnya sudah dikeluarkan dari sekolah sejak 2011 lalu. Sigit merasa janggal karena orang tersebut bisa mendapatkan nomor ujian.

“Ada juga yang sudah empat tahun tidak mengajar tapi bisa ikut ujian dan lolos juga,” paparnya.

Selain empat nama tadi, masih ada lagi keanehan yang ditemukan oleh PHSNI. “Dari daftar nama yang diterima, nomor ujiannya kelipatan sembilan semua,” ungkap Sigit Haryanto.

Setelah melihat nama-nama pada pengumuman hasil ujian, PHSNI menemukan indikasi menggunakan rumus tribunansi atau kelipatan sembilan. Diakui mereka sudah mencoba mengklarifikasi hal itu ke pemerintah namun belum mendapatkan jawaban.

Purwanti, Pegawai Tidak Tetap (PTT) di SD Negeri Mejing 2 Gamping menyampaikan protesnya terkait tidak adanya penambahan skor dengan mempertimbangkan masa kerja.

“Tolong pemerintah benar-benar memperhatikan honorer. Kalau memang ingin mengangkat, diperhatikan masa kerja dan usianya juga,” kata Purwanti.

Umayah, Guru Tidak Tetap (GTT) di SMP Negeri 2 Sleman, berharap tenaga honorer bisa diangkat menjadi CPNS, baik secara bertahap maupun diangkat sekaligus. “Dalam waktu dekat agar bisa dipikirkan bagaimana nasib yang tidak diterima. Gaji dibayar sebagaimana UMR [upah minimum regional],” ucapnya.

Wagito, PTT di SMK Negeri 2 Godean menambahkan, dia memohon adanya tambahan kuota CPNS. “Terutama untuk PTT yang belum diterima,” ujar Wagito.

Kecewa
Menanggapi pengaduan itu, Huda Tri Yudiana mengaku kecewa dengan hasil ujian CPNS bagi honorer K2. “Lebih banyak yang tidak diterima, yang diterima hanya 39 persen,” katanya.