Advertisement

Harian Jogja

Branding 'Jogja Never Ending Asia' akan Diubah

Kamis, 24 April 2014 - 11:20 WIB
Nina Atmasari
Branding 'Jogja Never Ending Asia' akan Diubah

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA-Jogja Never Ending Asia, branding (merek) untuk ‘menjual’ wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta yang banyak ditemui di sudut kota bakal diubah menyesuaikan semangat keistimewaan DIY.

“Selama ini branding itu hanya untuk kompetisi wisata dengan negara lain, namun karena sudah ada Undang-undang Keistimewaan maka di rebranding,” ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY di sela- sela acara Rapat Evaluasi dan Pengawasan Penyerapan Anggaran di Hotel Ina Garuda, Rabu (23/4/2014).

Advertisement

BACA JUGA:  TelkomClick 2023: Kesiapan Kerja Karyawan dalam Sukseskan Strategi Five Bold Moves di Tahun 2023

Jogja Never Ending Asia dibuat oleh Pemilik Markpus Inc (perusahaan marketing) Hermawan Kartajaya. Ketika diubah, Sultan mengusulkan agar makna Jogja Renaissance dan ruh Sabdatama Raja tertuang dalam branding baru tersebut. “Sehingga branding Jogja itu tidak hanya untuk publik, tetapi juga pemerintahan,” ujarnya.

Renaissance merupakan bagian dari visi misi Gubernur dalam menyambut Keistimewaan DIY. Sentral Renaissance itu untuk melahirkan peradaban baru yang unggul dengan menghasilkan manusia utama.

Sultan menyebutnya Jalma Kang Utama berazas rasa Ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Wujud Renaissance dituangkan dalam sembilan bidang strategis di antaranya meliputi pendidikan, pariwisata, teknologi, ekonomi, energi pangan, kesehatan, dan tata ruang lingkungan.

Misinya yang diunggulkan itu salah satunya adalah berorientasi pembangunan dengan mengedepankan pembangunan di pesisir dan menjadi laut selatan sebagai pintu gerbang DIY.

Dalam rapat itu, Hermawan sempat diberi waktu untuk mensosialisasikan desain branding baru tersebut. Salah satu pilihannya adalah masih mempertahankan huruf J dengan garis lurus di atas yang lebih besar seperti pada Jogja Never Endi Asia sekarang, karena sebagai lambang payung atau Sultan sebagai pengayom (Hamenayu Hayuning Bawana).

Pada tubuh huruf J itu bewarna kuning keemasan sebagai simbol warna Kraton, sedangkan pada garis lurus dan atasnya bewarna merah, sedangkan pada huruf O-G-J-A bewarna putih sebagai simbol bendera kebangsaan Indonesia.

Adapun renaissance itu tercermin pada total garis sketsa garis Jogja yang berjumlah sembilan. “Jogja harus berani mengatakan bahwa Jogja The Spirit of Indonesia karena punya Sabdatama dan renaisance," kata Hermawan.

BACA JUGA:  Finnet Dukung Digitalisasi Sistem Pembayaran Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Pariwisata Bantul Harus Terus Berbenah

Pariwisata Bantul Harus Terus Berbenah

Jogjapolitan | 2 hours ago

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Baca Koran harianjogja.com

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Geser Rusia, Amerika Kini Jadi Pemasok Minyak Mentah Terbesar Eropa

News
| Rabu, 29 Maret 2023, 23:07 WIB

Advertisement

alt

Deretan Negara di Eropa yang Bisa Dikunjungi Bagi Pelancong Berduit Cekak

Wisata
| Selasa, 28 Maret 2023, 05:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement