Bukannya Memperkuat, Sejumlah Kebijakan Pemerintah Pusat Justru Dinilai Melemahkan Desa
Undang-Undang (UU) Desa dinilai belum mampu menghantarkan masyarakat desa menjadi sejahtera dan bermartabat.
HarianJogja/Gigih M. Hanafi Para pemulung mengumpulkan sampah yang belum dipilah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, Kamis (24/4). Diperkirakan pada tahun 2015 TPST tersebut penuh sehingga pengolahan sampah secara mandiri oleh masyarakat perlu semakin digencarkan.
Harianjogja.com, BANTUL-Penyakit paru-paru mulai menyerang warga yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan Bantul akibat buruknya kondisi lingkungan di daerah ini.
Sejumlah warga di TPA Piyungan mengeluhkan sesak nafas, pusing dan batuk beberapa bulan terakhir. Sardi Winarto, 50, salah satu warga mengungkapkan, saat ini sudah dua orang warga yang positif mengidap penyakit paru-paru sehingga harus menjalani perawatan intensif.
Satu orang di antaranya bahkan harus dirawat di rumah sakit sekitar tiga minggu lalu. Sedangkan seorang lainnya hanya rawat jalan, namun diwajibkan dokter meminum obat setiap hari selama enam bulan. “Di sini sudah dua orang yang benar-benar sakit paru-paru, itu dari pemeriksaan dokter,” ungkap Sardi, Jumat (25/4/2014).
Sardi juga mengalami gangguan sakit paru-paru. Di usianya yang tidak lagi muda itu, ia kerap mengeluhkan sesak nafas dan pusing. Ia kini harus berobat secara rutin ke puskesmas atau rumah sakit. Sekali berobat, lelaki yang berprofesi sebagai pemulung itu harus mengeluarkan biaya puluhan ribu rupiah.
“Kadang hanya Rp13.000, Rp50.000 sekali berobat, tapi kan itu sering. Kalau sering juga akhirnya banyak biaya yang dikeluarkan,” imbuhnya.
Slamet Amir Suyoto, 45, juga mengungkapkan hal serupa. Kerap mengalami pusing, batuk dan sesak nafas. Menurut dia, keluhan seperti itu sudah biasa dialami warga di sekitar TPA. “Kalau pusing, sesak nafas itu sudah biasa, kami anggap penyakit kecil. Cuma masalahnya kalau nanti jadi parah kami enggak punya biaya untuk berobat,” imbuh Amir.
Warga di sekitar TPA Piyungan sudah sejak lama menuntut kompensasi biaya kesehatan ke Pemkab. Sebagai bentuk perhatian kepada warga yang tinggal di sekitar TPA. Namun tuntutan itu tidak pernah dipenuhi.
Pemerintah kata dia hanya menyediakan puskesmas keliling setiap dua minggu sekali yang mampir ke sekitar TPA. Sedangkan untuk biaya pengobatan ke rumah sakit, tidak ada anggaran khusus dari pemerintah.
“Memang ada jaminan kesehatan pemerintah seperti Jamkesmas [Jaminan Kesehatan Masyarakat], tapi itukan repot penggunaannya. Sedangkan warga sakit itu harus segera ditangani. Seandainya ada anggaran langsung dari pemerintah kan enak bisa langsung berobat. Selama ini enggak ada. Itulah yang kami sesalkan,” tegas Amir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Undang-Undang (UU) Desa dinilai belum mampu menghantarkan masyarakat desa menjadi sejahtera dan bermartabat.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
11 manfaat beras kencur untuk kesehatan, mulai dari menambah nafsu makan, menjaga stamina, hingga membantu tidur lebih nyenyak.
Sekawan Limo 2 Gunung Klawih tembus 212 ribu penonton di hari pertama, catat rekor box office Indonesia 2026.
Ngecas mobil listrik semalaman aman berkat BMS, bahkan lebih baik untuk baterai dibanding fast charging menurut studi Geotab.
Pelatih Malaysia Nafuzi Zain soroti kekuatan Timnas Indonesia di Grup H Kualifikasi Piala Asia U20 2027 yang disebut sangat ketat.