TOKO BERJEJARING : Rugi, Sugiman Memilih Menutup Warung

Ilustrasi ritel (Dok - JIBI)
08 Januari 2015 12:22 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Toko berjejaring yang mulai masif 'menyudutkan' pemilik warung kecil di sekitar supermaket mini tersebut.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sejumlah pedagang di Desa Siraman, Wonosari mengeluhkan keberadaan toko berjejaring yang berkedok menggunakan nama lain. Malahan ada seorang pedagang terpaksa menutup usahanya dan memilih untuk menyewakan kios tempat berjualan.

Salah seorang penjual toko kelontong di Dusun Sumbermulyo, Kepek, Tri Harjono merasakan dampak keberadaan toko berjejaring dengan kedok Toko Mulya. Dia mengaku kesulitan bersaing dengan toko tersebut, apalagi dari sisi jarak hanya terpisah sekitar 100 meter.

“Dampaknya makin terasa. Makin hari, toko saya makin sepi, padahal saya sudah buka hingga larut malam,” katanya saat ditemui di tokonya, Rabu (7/1/2015).

Sebelum toko tersebut berdiri, barang dagangannya laris terjual. Namun, kondisi tersebut berubah drastik, sekitar satu bulan belakangan. Harjono mencontohkan, biasanya susu cepat laku terjual, akhir-akhir ini sepi pembeli.

“Selain lakunya lama, untuk mendapatkan barang tersebut kami juga kesulitan. Sedang, di toko itu barang-barang tersedia dengan mudahnya,” keluhnya.

Harjono pun mengaku tidak bisa berbuat apa-apa terkait keberadaan toko berjejaring tersebut. Sementara, meski menggunakan nama toko lain, dia yakin toko tersebut merupakan toko berjejaring.

“Dari tata letak, gambar hingga pasokan sudah jelas. Namun, kalau disuruh bersaing jelas tidak bisa, padahal kami juga sudah meniru konsep dengan toko moderen,” kata dia.

Keluhan yang sama juga dirasakan Sugiman, warga Siraman, Wonosari. Secara letak, toko miliknya berada tepat di depan Toko Mulya. “Saya sangat merasakan dampaknya, dan tidak bisa menyaingi toko itu,” kata Sugiman.

Dia bercerita, saat ini jarang membuka toko semenjak keberadaan toko tersebut. Malahan dalam waktu dekat akan menyewakan tempat yang biasa digunakan untuk berjualan.

“Mau bagaimana lagi, saya tidak kuat untuk bersaing. Wong saat ini, saya juga jarang buka, karena penghasilan yang didapatkan terus menurun,” keluh pria yang akrab disapa Londo itu.