KISAH PEMBACOK SLEMAN : Teman Pelaku Mengaku Ketakutan, Karena Apa? (Bagian 2/2).

pembacokan, penusukan, pembunuhan
12 Januari 2015 15:40 WIB Sunartono Sleman Share :

Kisah pembacok Sleman, Faqih Amrullah saat melakukan aksinya selalu ditemani rekannya, ERA yang masih di bawah umur. ERA sendiri mengaku selalu merasa ketakutan berada di dekat teman yang baru sebulan dikenalnya.

Harianjogja.com, SLEMAN-Teman pelaku pembacokan Faqih Amrullah, ERA terpaksa menuruti perintah Faqih untuk memboncengkan berkeliling mencari korban untuk dibacok. ERA tidak berani menolak karena takut diancam. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Faqih membacok korban di jalanan. Ia tak berani berontak karena takut ikut menjadi korban.

"Saya kenal baru sebulan, saya takut sama dia, jadi ikut saja," kata ERA, Minggu (11/1/2015).

Uniknya, keesokan hari setelah membacok korban Faqih dan ERA datang ke TKP pembacokan yang dilakukannya di Candi Gebang. Bahkan ia turut melihat, saat polisi melakukan olah TKP di lokasi kejadian. Bagi ERA saat itu ia merasa takut dan khawatir bahkan ingin melapor kejadian itu ke polisi. Tetapi tidak bagi Faqih, ia tidak memiliki pemikiran yang sama seperti ERA. Setelah melihat sebentar olah TKP keduanya pun pergi.

Pasca kejadian keduanya tetap memantau berita pembacokan melalui surat kabar. Faqih santai-santai saja. Tetapi ERA merasa ketakutan. Bahkan lebih dari sepekan ia tidak masuk sekolah karena takut. Keluar rumah juga takut. Tapi setiap kali ingin melaporkan tindakan itu, ia merasa takut dengan Faqih. Ya, Faqih dimungkinkan psikopat. Melakukan tindakan merugikan orang lain tanpa merasa bersalah. Bahkan kemudian melakukan pembacokan lagi hingga tertangkap polisi.

"Saya tidak pernah melakukan pembacokan. Kalau pedang itu memang milik saya tetapi untuk pajangan di rumah. Saat dibawa dia [Faqih], katanya hanya untuk jaga-jaga. Tapi selama perjalan kejadian itu [pembacokan]," kata ERA lagi.