PEMULUNG BERSERAGAM : Pelatihan Mengenai Kesehatan, Keamanan dan Estetika Diberikan

Para pemulung mencari sampah non organik seperti botol plastik dan kaca di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari di Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Sabtu (8/2 - 2014). Lahan TPA Sukosari diperluas 1,1 hektare pada 2013 lalu, penambahan lahan dilakukan untuk menampung sampah yang selalu meningkat setiap tahun.
15 Januari 2015 20:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Pemulung berseragam tidak hanya dilindungi, tetapi juga menerima pelatihan mengenai kesehatan, keamanan dan estetika.

Harianjogja.com, JOGJA-Dinas Sosial DIY akan memfasilitasi pelatihan kepada pemulung berseragam. Pelatihan meliputi aspek kesehatan, keamanan dan estetika.

"Pelatihan untuk pemulung berseragam, dari aspek kesehatan misalnya pemulung harus mengenakan sepatu boot, sarung tangan, masker, helm proyek. Estetika antara lain tidak boleh masuk taman, pekarangan rumah dan lainnya," papar Kepala Dinas Sosial Untung Sukaryadi seusai rapat dengan pengepul barang bekas se-DIY di kantornya, Rabu (14/1/2015)

Dari catatan Dinas Sosial, jumlah pemulung di DIY mencapai 171 pemulung. Namun datang yang diperoleh itu berdasarkan laporan dari pengepul barang-barang bekas.

"Kami yakin jumlahnya bisa lebih," tukas Untung.

Sementara, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) DIY Bambang Budi Istiarjo menyatakan, tahun ini akan menggiatkan razia gelandangan dan pengemis (gepeng). Pemulung yang berpenampilan seperti pengemis masuk dalam daftar razia.

Diakui Bambang, saat ini anggaran penertiban gepeng sudah tersedia sejak Perda Nomor 1/2014 diundangkan.

"Sebelumnya memang razia kurang karena itu [anggaran minim]" kata dia.