WISATA SLEMAN : Pengunjung Kebun Koleksi Salak Nusantara Terus Menurun, Mengapa?

Beberapa pengunjung mengamati tanaman salak yang ada di Kebun Koleksi Salak Nusantara di Dusun Candi, Bangunkerto, Turi, Sleman. (JIBI/Harian Jogja - Rima Sekarani I.N.)
16 Januari 2015 16:20 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Wisata Sleman di Kebun Koleksi Salak Nusantara mengalami penurunan kunjungan.

Harianjogja.com, SLEMAN-Angka kunjungan wisatawan Kebun Koleksi Salak Nusantara di Dusun Candi, Bangunkerto, Turi, Sleman mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir. Pihak pengelola menyebut sepinya kunjungan ke Agrowisata di Dusun Gadung, Bangunkerto sebagai penyebab utamanya.

Mulyono, pengelola Kebun Koleksi Salak Nusantara mengungkapkan terdapat sekitar 19 jenis tanaman salak yang jadi koleksi. Hanya dengan membayar tiket masuk seharga Rp10.000, pengunjung bisa mengelilingi kebun salak seluas satu hektare.

“Pengunjung bisa melihat banyak jenis tanaman salak. Salak pondoh saja sudah ada beberapa jenis. Selain itu juga ada salak condet, kembang arum, nonduri, bali, dan lainnya,” papar Mulyono.

Pengunjung pun dibebaskan untuk memetik dan makan salak sepuasnya. Jika ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, pengunjung pun bisa membeli salak segar dengan harga standar.

“Tapi pada dasarnya wisata kebun di sini itu mendukung Agrowisata. Jadi karena di sana kurang terawat dan sepi, kami juga kena imbasnya,” ungkap Mulyono kemudian.

Meski demikian, lanjut Mulyono, Kebun Koleksi Salak Nusantara tetap masih diminati sebagai obyek wisata edukasi. Sebab, mayoritas pengunjung adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.

Sementara itu, pengelola Agrowisata, Sugito mengakui memang banyak fasilitas yang tidak terawat bahkan rusak. Misalnya saja jembatan penghubung antar gazebo yang ada di atas embung. Jembatan yang terbuat dari kayu itu sudah rapuh bahkan ada bagian yang terputus. Beberapa wahana permainan air pun tampak terbengkalai. Hal itu membuat kurang menarik bagi wisatawan.

Sugito memaparkan, Agrowisata yang beroperasi sejak 1989 tersebut mulai dikelola investor pada tahun 2000. Awalnya, kunjungan di Agrowisata yang dilengkapi dengan wahana kolam renang dan taman anggrek tersebut sangat ramai. Namun, karena kurangnya manajemen, Agrowisata jadi tidak berkembang dan mulai ditinggalkan wisatawan.

Pengelolaan oleh investor akhirnya dihentikan pada 2007. Agrowisata kemudian diambil alih oleh Pemerintah Desa Bangunkerto. Namun, langkah pengembangan Agrowisata tetap saja terbentur biaya.

“Kami minta Pemkab segera turun tangan. Apalagi konsep pengembangan dan pembangunannya juga sudah dibuat,” kata Sugito.