PENGANIAYAAN KULONPROGO : Tak Terima Dicaci, Kakak Aniaya Adik Kandung

30 Januari 2015 12:42 WIB Kulonprogo Share :

Penganiayaan Kulonprogo, tak terima dicaci maki, kakak menampar dan menendang adik hingga pingsan.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Seorang warga Pedukuhan Sabrang Kidul, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Jiyanto, 40, nekat menganiaya adik kandungnya, Suprapti, 35, setelah terlibat adu mulut di areal persawahan. Akibatnya, suami korban, Suyono, 41, tidak terima dan melaporkan perbuatan pelaku ke polisi.

Peristiwa tersebut bermula saat Jiyanto menemui Suprapti yang sedang bekerja sebagai buruh proyek air pam di sebuah areal persawahan pada 20 September silam. Ia menanyakan keberadaan buku nikahnya kepada sang adik. Namun, Suprapti mengaku tidak tahu menahu soal keberadaan buku nikah Jiyanto dan istrinya.

Merasa sang adik menutupi buku nikahnya, Jiyanto pun naik pitam dan menampar Suprapti hingga jatuh dalam posisi duduk. Tidak berhenti sampai di sini, ia menendang kepala bagian belakang korban hingga pingsan karena terbentur batu. Saudaranya yang lain melihat kejadian tersebut segera melerai. Korban dilarikan ke Puskesmas Jonggrangan, sementara pelaku melarikan diri.

Jiyanto mengakui perbuatan tersebut didasari emosi karena sang adik tidak mau memberikan buku nikah. Beberapa waktu sebelumnya, buku nikah tersebut dititipkan Jiyanto ke ibunya dengan alasan sang istri sedang pergi.

“Istri saya kerja di Taiwan sejak tujuh tahun lalu dan baru pulang sekali, jadi saya titipkan buku nikah ke ibu saya,” ujarnya saat disidik Polres Kulonprogo, Kamis (29/1/2015).

Oleh sang ibu, kata Jiyanto, buku nikah tersebut dititipkan ke Suprapti sehingga ia pun memintanya kepada sang adik.

Diungkapkannya, ia tidak pernah memiliki persoalan dengan sang adik. Hanya saja, ketika itu ia merasa sakit hati karena Suparapti mencacinya saat ia meminta buku nikah.

“Dikatain saya cuma tinggal numpang orangtua,” imbuhnya.

Kasubag Humas Polres Kulonprogo AKP Slamet membenarkan telah menangkap pelaku penganiayaan. Sebelum ditangkap, terangnya, pelaku sempat melarikan diri hingga Wonosobo selama tiga bulan. Persoalan ini terjadi karena urusan keluarga. Slamet menyebutkan pelaku dijerat pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.