PENGANIAYAAN BANTUL : Korban Hello Kitty Tidak Berani Keluar Rumah

Ilustrasi korban pelecehan seksual (JIBI/Solopos - Dok.)
10 Maret 2015 14:40 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Penganiayaan Bantul yang berawal dari tato Hello Kitty berdampak pada kondisi psikis korban.

Harianjogja.com, BANTUL- LAA, siswi korban penganiayaan sadis di Dusun Saman, Desa Bangunharjo, Sewon Bantul gara-gara perkara tato Hello Kitty sampai saat ini masih trauma.

Ibu korban, Menik Pardiyem mengungkapkan, putrinya sampai sekarang tidak mau sekolah. Dia hanya berdiam diri di rumah.

"Keluar rumah saja enggak berani, hanya di rumah nonton televisi atau ke kamar," ungkap Menik ditemui di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Selasa (10/3/2015).

Beruntung kata Menik, pihak sekolah memberi kelonggaran pada LAA untuk memulihkan traumanya, dengan tidak bersekolah untuk saat ini.

Ditambahkannya, siswi kelas II SMA itu juga enggan bertemu dengan teman-temannya kecuali teman akrab dan keluarganya. Sampai saat ini, LAA masih menjalani therapi psikologi untuk memulihkan traumanya.

"Therapinya dua kali sehari," ujar dia.

Sementara itu, Pranowo, kuasa hukum salah satu pelaku penganiayaan berinisial NK menolak memberikan keterangan kepada media.

"Nanti kalau setelah sidang baru saya beri pernyataan," ujar Pranowo saat mendampingi NK sebelum sidang penganiayaan dimulai di PN Bantul.

Korban LAA sebelumnya disekap dan dianiaya secara sadis dengan cara diikat, disundut rokok, dipukul serta mengalami kekerasan di kemaluannya. Gara-gara menyandingkan tato Hello Kitty miliknya dengan tato serupa milik salah satu tersangka berinisial Rth di jejaring sosial Instagram. Lima pelaku, empat diantaranya perempuan dan seorang lelaki kini telah tertangkap, dan empat tersangka lainnya masih buron.