PENATAAN KOTA JOGJA : Bagaimana Gambaran Ideal XT-Square

15 Maret 2015 07:24 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

Penataan Kota Jogja, manajemen XT Square diminta seimbangkan UMKM dan hiburan.

Harianjogja.com, JOGJA - Kondisi kios kerajinan usaha mikro, kecil, dan menengah di XT-Square dinilai belum berkembang maksimal jika dibanding zona hiburannya sehingga Komisi B DPRD Kota Jogja meminta manajemen menyeimbangkan perhatian untuk keduanya.

"Roh pembangunan pasar seni dan kerajinan XT-Square adalah untuk membantu perajin mikro kecil dan menengah (UMKM) memasarkan produknya dan untuk kegiatan seni. Keduanya harus diberi perhatian yang seimbang," kata anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Suharyanto, Sabtu (14/3/2015).

Menurut dia, salah satu bentuk perhatian yang bisa diberikan kepada perajin yang memiliki kios di zona kerajinan XT-Square adalah dengan menurunkan tarif sewa sehingga perajin kembali bersemangat membuka kiosnya.

Ia mengatakan, nilai sewa yang cukup tinggi di XT-Square terkadang cukup memberatkan perajin sehingga diperlukan penurunan biaya sewa untuk meringankan beban agar perajin bisa membuka kios secara rutin.

"Harapannya, jika hiburannya berkembang baik, maka UMKM di zona kerajinan juga harus bisa berkembang baik," katanya.

Sedangkan Anggota Komisi B Danang Rudiatmoko berharap, manajemen bisa bekerja sama dengan Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) untuk memasukkan pasar seni dan kerajinan tersebut sebagai salah satu tujuan wisata di Kota Yogyakarta.

"BP2KY akan melakukan kegiatan promosi dalam waktu dekat. Harapannya, keberadaan XT-Square ini turut dipromosikan sehingga lebih dikenal luas oleh wisatawan," katanya.

Ia berharap, promosi yang dilakukan bisa ikut mendongkrak jumlah wisatawan atau pengunjung yang datang ke pasar seni dan kerajinan sekaligus membelanjakan uangnya untuk membeli berbagai kerajinan yang ditawarkan.

Sementara itu, Direktur Operasional dan Pemasaran PD Jogjatama Vishesha selaku pengelola XT-Square Widihasto Wasana Putra mengatakan, menerima masukan dari anggota legislatif.

"Masalah yang dialami di zona kerajinan cukup banyak, dan masalah terbesarnya adalah kondisi gedung di XT-Square yang tidak saling terhubung sehingga tidak ada alur pengunjung yang pasti," katanya.

Ia mengusulkan agar pagar di sisi utara zona kerajinan bisa dirobohkan sehingga zona tersebut lebih terlihat dari luar.

"Selain itu, kualitas produk dari perajin yang berjualan di zona kerajinan harus ditingkatkan. Perlu ada produk yang bisa menarik minat pengunjung untuk datang," katanya.

Sedangkan mengenai penurunan biaya sewa, lanjut dia, masih bisa dinegosiasikan kembali, namun manajemen menegaskan tidak akan menghapus biaya sewa. Besaran sewa kepada perajin saat ini ditetapkan sekitar Rp500.000 per bulan. "Jika dihapus, maka ketahanan 'cashflow' kami akan lemah dan bukan merupakan pembelajaran yang baik kepada perajin," katanya.