Kekeringan Landa 17 Kapanewon di Gunungkidul, 14 Juta Liter Air Bersih Disalurkan
Kekeringan melanda 17 kapanewon di Gunungkidul. Sebanyak 2.811 tangki atau 14,05 juta liter air bersih telah disalurkan.
Puluk Organik sempurna belum bisa diterapkan di Gunungkidul. Petani masih menggunakan pupuk kimia namun dengan takaran tertentu
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul memprediksi panen di Musim Tanam Pertama tahun ini meningkat sekitar 4%.
Namun untuk meningkatkan produktivitas yang lebih maksimal, petani harus didampingi secara berkelanjutan. Selain itu, upaya perawatan disarankan untuk menggunakan pupuk organik.
Ketua Ikatan Petani Organik Gunungkidul Iswanto mengatakan, petani belum bisa meninggalkan pupuk kimia. Padahal kalau hal tersebut bisa dilakukan, maka panen yang didapatkan akan lebih maksimal.
“Masih belum bisa, namun proses itu akan kami lakukan secara perlahan. Caranya dengan mengurangi pupuk kimia dan diganti dengan organik dengan cara bertahap,” kata Iswanto kepada wartawan, saat meninjau panen padi demplot di Dusun Tumpak, Ngawu, Playen, Minggu (15/3/2015).
Dia mengakui, saat ini model pertanian yang dikembangkan masih semi organik, karena masih menggunakan sebagian pupuk kimia untuk pemeliharaan. Namun demikian, panen yang dihasilkan dapat maksimal karena per hektare mampu menghasilkan 12 ton gabah.
“Selain pola pemeliharaan, guna meningkatkan produktivitas harus ditingkatkan dengan cara memperbanyak program pendampingan melalui sekolah-sekolah lapangan,” ujarnya.
Menurut dia, untuk menggairahkan petani untuk bercocok tanam tidak hanya sebatas pelatihan teori. Sebab, masyarakat perlu diberikan praktik di lapangan, bagaimana cara menanam dan bertani dengan benar.
Dia berpendapat dengan pendekatan sistem pertanian ini, sangat memungkinkan Gunungkidul menjadi wilayah swasembada pangan. Kalau itu bisa diujudkan maka kesejahteraan petani otomatis akan meningkat.
“Yang jelas dengan model pertanian ini, residu bahan kimia akan semakin berkurang. Saya juga sudah membuktikannya untuk tanaman cabai, kalau dengan metode biasa petani hanya panen 15 kali, maka dengan semi organik bisa mencapai 22 kali panen dalam setahun,” imbuhnya.
Kepala Dusun Tumpak, Desa Ngawu Playen, Sumanto mengaku telah menerapkan pola pertanian semi organik. Hasilnya pun cukup memuaskan, sebab setiap dua meter persegi lahan mampu menghasilkan delapan kilogram gabah, sementara dengan pupuk kimia murni hanya menghasilkan 5,6 kilogram.
“Komposisinaya 75% pupuk organiK dan sisanya menggunakan phonska. Hasilnya pun sangat baik,” kata Sumanto.
Dia mengakui, hasil panen ini merupakan yang terbesar selama menggarap sawah. Sumanto pun mengaku tidak lagi bergantung terhadap keberadaan pupuk yang seringkali terhambat dalam penyaluran. “Model ini akan saya pakai terus,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kekeringan melanda 17 kapanewon di Gunungkidul. Sebanyak 2.811 tangki atau 14,05 juta liter air bersih telah disalurkan.
Sebanyak 500 peserta dari 30 tim mengikuti lomba tarik lokomotif 84 ton di Balai Yasa Jogja dalam rangka HUT ke-81 KAI.
Timnas Indonesia dinilai punya keuntungan di FIFA ASEAN Cup 2026 karena bisa menurunkan skuad penuh dan berstatus tuan rumah.
Warga Padukuhan Karang, Tuksono, Kulonprogo, kembali memprotes tambang pasir Sungai Progo. CV BKS menyebut seluruh perizinan telah lengkap.
Jenazah Sukarman, kru KM Arupadatu I, tiba di Soetta dari Bengkulu dan langsung dibawa ke rumah duka di Pandeglang.
Harga BBM hari ini 24 September 2026 masih mengikuti penyesuaian awal September. Pertamax tetap Rp15.950 per liter.