KULINER GUNUNGKIDUL : Belalang Oleh-oleh Khas, Bahan Baku "Impor"

Selain menyetor ke toko oleh-oleh, Heriyanto juga masih menjajakan belalang goreng di tepi jalan Semanu-Wonosari, Kamis (26/3/2015). (JIBI/Harian Jogja - Khusnul Isti Qomah)
28 Maret 2015 09:40 WIB Kusnul Isti Qomah Gunungkidul Share :

Kuliner Gunungkidul berupa olahan belalang menjadi ciri khas sejak lama. Namun, bahan bakunya justru dari luar Gunungkidul.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Belalang goreng menjadi makanan khas Gunungkidul yang kerap menjadi oleh-oleh. Setiap bulannya, sekitar 864.000 belalang diolah menjadi makanan. Sayangnya, bahan bakunya justru dari luar Gunungkidul.

Salah satu produsen belalang goreng kemasan, Heriyanto, 34, mengatakan, sudah sejak 2010 ia kesulitan mendapatkan bahan baku (belalang) asli dari Gunungkidul. Ia pun harus mengambil bahan baku dari Kabupaten Kulonprogo untuk memenuhi permintaan pasar.

“Setiap hari, saya disetori dari Kulonprogo 20 kg belalang. Setiap kilogramnya Rp60.000,” ungkap warga Dusun Jelok, Desa Parajero, Kecamatan Semanu itu kepada Harianjogja.com ketika ditemui di Semanu, Kamis (26/3/2015).

Menurut dia, pada 2007-2009, masih mendapatkan setoran belalang asli Gunungkidul sebanyak 10.000 ekor atau sekitar 27 kg (satu kilogram kurang lebih berisi 360 belalang). Mulai 2010, paling banyak, ia mendapatkan setoran belalang Gunungkidul sebanyak 5.000 ekor.

“Di Gunungkidul ini hanya ada empat orang yang memproduksi belalang goreng dalam skala besar. Lainnya juga ambil dari Kulonprogo sebanyak 20 kg,” ungkap dia.

Hasil produksi, lanjut dia, biasa disetorkan ke toko pusat oleh-oleh. Heriyanto sendiri menyetor ke 11 toko di Gunungkidul dan Jogja. Setiap toko disetori sekitar enam hingga 10 lusin belalang dalam toples.

“Kalau yang dijajakan di tepi jalan itu, banyak yang ambil dari produsen lalu dijual kembali. Tapi, ada beberapa yang membuat sendiri,” ungkap pria yang sudah menggeluti bisnis ini sejak 2007.

Hasil yang didapat, lanjut dia, lumayan besar. Ia menjual setiap toples belalang (isi 50 belalang) dengan harga bervariatif tergantung kepada siapa dia menjual. Harganya antara Rp25.000 hingga Rp35.000 setiap toples.

Pemilik pusat oleh-oleh Yu Tum di Wonosari Slamet Riyadi mengatakan, ia biasa mengambil pasokan belalang goreng dari produsen belalang goreng. Setiap produsen biasa menyetor hingga 1.500 toples.

“Rasanya ada yang bacem, gurih, dan pedas,” ungkap dia.