SABDA RAJA : Jadi GKR Mangkubumi, Ini Tanggapan Pembayun

JIBI/Desi SuryantoGKR Pembayun bersama KPH Wironegoro berfoto bersama sang putri RAj. Arti Ayya Fatimasari Wironegoro (putri pasangan KPH Wironegoro dengan GKR Pembayun) seusai siraman dalam upacara adat tetesan di nDalem Wironegaran di Jalan Suryo Mentaraman, Yogyakarta, Minggu (22/12 - 2013). Upacara adat tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena anak telah memasuki tahapan masa remaja ditandai dengan kematangan fisik dan berkembangnya alat/alat reproduksi untuk berketurunan.
09 Mei 2015 13:20 WIB Jogja Share :

Sabda Raja, salah satunya memerintahkan GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi

Harianjogja.com, JOGJA- GKR Pembayun yang kini berganti nama menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram mengaku gelar yang disandangnya berarti tugas dan tanggung jawabnya semakin berat.

“Bagi saya dengan duduk disitu [Watu Gilang], batu nyang biasa ditempati calon Sultan] tugas dan beban saya semakin banyak,” ucap Pembayun, saat jumpa pers di kediaman GKR Pembayun yang kini bergelar GKR Mangkubumi di Jalan Panembahan, Kraton, Jogja, Jumat (8/5/2015).

Pembayun mengaku tidak mengetahui apa yang akan disampaikan dalam Dawuh Raja, Selasa (5/5/2015).

Istri dari Kanjeng Pangeran Wironegoro ini tiba-tiba diperintahkan untuk berkumpul di Siti Hinggil, sekitar pukul 11.00 WIB.

Saat itu, Pembayun pun hanya mengenakan kebaya biasa. “Saya enggak tahu sebelumnya, sampai saya diberi nama itu [GKR Mangkubumi],” katanya.

Pembayun menyatakan ikhlas menjalani tanggung jawab setelah punya gelar anyar. Ia akan senantiasa menjalani apa yang sudah  ditetapkan Ngarsa Dalem.

Disinggung soal beberapa kerabat Sultan yang tidak setuju dengan gelar tersebut, Pembayun mengatakan pro-kontra pasti terjadi. Da tetap menghormati para rayi Sultan. “Bagaimana pun, mereka om saya,” ujarnya.

GKR Mangkubumi mengaku masih membutuhkan bimbingan roma-roma (rayi Sultan) untuk melastarikan kebudayaan dalam Kraton.