SABDA RAJA JOGJA : Pakar Sebut Sabda dan Paugeran Justru Seimbangkan Kraton

Raja Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X di dampingi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas (dua kanan di Dalem Wironegaran, Jogja, Jumat (8/5/2015). Pertemuan dengan puluhan perwakilan masyarakat Jogja tersebut Sultan HB X menjelaskan lebih terperinci tentang Sabda Raja dan Dawuh Raja beberapa waktu lalu. (Gigih M. Hanafi/JIBI - Harian Jogja)
14 Mei 2015 16:20 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

Sabda Raja Jogja dan paugeran dinilai Dosen Filsafat UGM sebagai penyeimbang Kraton.

Harianjogja.com, SLEMAN - Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhtasyar Syamsuddin menilai sabda raja serta paugeran merupakan kesatuan yang seharusnya mampu menjaga keseimbangkan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Paugeran (aturan pokok keraton) dengan keputusan internal yang bersifat transendental (sabda raja) itu, seharusnya jangan diperlawankan, melainkan harus dijaga keseimbangannya," kata Muhtasyar di Yogyakarta, Rabu.

Dia mengatakan dengan merujuk pada tradisi serta filsafat jawa, harus ada keseimbangan antara yang bersifat teosentris (ketuhanan) yakni sabda raja, dengan yang bersifat antroposentris yakni paugeran.

"Dalam filsafat jawa, perintah Tuhan harus selaras dengan karya manusia," katanya.

Menurut dia, masyarakat juga harus memahami dan menghormati bahwa sabda raja yang dikeluarkan Sultan HB X dipahami sebagai kepentingan internal keraton yang mendasarkan pada perintah Tuhan.

"Oleh karena itu, dalam konteks tersebut, apapaun yang terjadi dalam keraton dianggap sebagai maunya Tuhan," kata dia.

Kendati demikian, menurut Muhtasyar, apabila sabda raja serta paugeran pada akhirnya dipertentangkan, dan memang berlawanan, maka yang harus diubah adalah paugeran sebagai produk pemikiran manusia.

"Oleh karena itu, dengan mengeluarkan sabda raja, Sultan merasa paugeran dikalahkan, karena dinilai sebagai hasil kesepakatan manusia," katanya.

Menurut dia, paugeran yang merupakan hasil karya pemikiran manusia masih dapat dikomunikasikan kembali untuk diubah, karena bukan merupakan kebenaran absolut.

Sebelumnya, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X pada 30 April 2015 mengeluarkan sabda raja, yang antara lain mengubah gelarnya dari "Buwono" menjadi "Bawono", serta menghilangkan gelar kalifatullah.

Selanjutnya pada Selasa (5/5/2015) lalu, Sultan kembali mengeluarkan "dawuh raja" yang berisi penggantian nama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun (putri pertama Sultan) menjadi GKR Mangkubumi.

Upaya itu dianggap oleh beberapa adik Sultan, bahwa Sultan telah keluar dari paugeran serta ingin menjadikan putrinya sebagai penerus tahta.