Advertisement
SETAHUN HASTO-WAWAN: Rekonstruksi Sosial Jadi Pijakan Utama
Diskusi refleksi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan di Taman Budaya Embung Giwangan, pada Senin (30/3/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Advertisement
JOGJA—Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan setelah satu tahun memimpin Jogja bersama Wakil Wali Kota Wawan Harmawan. Ia menegaskan, tahun pertama menjadi fase belajar sekaligus memulai perubahan, dengan rekonstruksi sosial sebagai pijakan utama ke depan.
Menurut Hasto, arah kebijakan ke depan bertumpu pada perubahan perilaku masyarakat melalui pendekatan rekonstruksi sosial. Konsep ini menjadi tulang punggung dari kerja-kerja teknokratis yang dijalankan pemerintah kota.
Advertisement
“Basic-nya adalah melakukan perubahan perilaku. Oleh karena itu, rekonstruksi sosial menjadi tema teknokratis,” kata Hasto seusai Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan di Taman Budaya Embung Giwangan, Senin (30/3).
Ia mencontohkan, perubahan perilaku tersebut bisa dimulai dari hal sederhana seperti pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, hingga ketertiban berlalu lintas dan kepatuhan terhadap aturan di ruang publik, termasuk kawasan wisata.
Meski sejumlah program telah berjalan, Hasto tidak menampik masih banyak target yang masih dikejar. Salah satunya program penguatan identitas Jogja sebagai kota pelajar melalui gagasan one village one sister university.
BACA JUGA
“Jadi bagaimana kampung-kampung di Kota Jogja ada jam belajar yang didampingi oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi. Kami sudah tanda tangan, sudah MoU dengan berbagai perguruan tinggi, implementasi itu harus kami lakukan,” katanya.
Selain itu, pengembangan Jogja sebagai kota budaya yang produktif secara ekonomi juga menjadi fokus. Hasto menyebut kalender event serta penguatan pusat-pusat ekonomi berbasis budaya akan digenjot pada 2026.
Dalam menjalankan kepemimpinan, Hasto mengaku mengambil referensi dari sejumlah kepala daerah lain. Ia mencontohkan kepemimpinan Wali Kota Surabaya dua periode, Tri Rismaharini yang berhasil menciptakan kota bersih dan taman yang tertata, serta Azwar Anas saat menjadi Bupati Banyuwangi yang dinilai sukses dalam digitalisasi layanan.
“Kalau seperti kepemimpinannya Bu Risma dulu di Surabaya kan kotanya bersih, tamannya bagus. Kepemimpinan di Banyuwangi, Pak Anas, itu digitalnya jalan dengan baik,” ujarnya.
Untuk langkah terdekat, Hasto menyebut akan melakukan refocusing anggaran dengan membagi prioritas pada program fisik dan non-fisik. Pada sektor fisik, perhatian diarahkan pada penataan kota seperti kebersihan, taman, dan trotoar.
Sementara pada sektor non-fisik, fokus diberikan pada penguatan regulasi dan perubahan kebiasaan masyarakat, termasuk penataan kawasan Malioboro serta budaya tertib dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyinggung pentingnya menghidupkan pusat desain serta unit pelaksana teknis agar mampu mendorong produktivitas ekonomi berbasis kreativitas lokal.
Di sisi lain, Pemkot Jogja berencana memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak. Hasto menyebut masih banyak mitra potensial, khususnya dari sektor perhotelan dan restoran, yang akan dilibatkan dalam program-program sosial seperti bedah rumah.
Selain itu, optimalisasi peran Baznas juga disiapkan sebagai salah satu mesin penggerak untuk menghimpun partisipasi publik dalam kegiatan gotong royong.
Dalam refleksi setahun kepemimpinan, Pemkot Jogja memberikan penghargaan terhadap individu, komunitas, hingga lembaga dalam lima klaster pembangunan, mulai dari lingkungan, ekologi sungai, kesehatan dan pendidikan, kemitraan sosial, hingga tata kota dan pelayanan publik.
Hasto menegaskan, penghargaan sengaja diberikan kepada masyarakat sebagai bentuk pengakuan atas peran nyata mereka dalam menjaga dan membangun kota.
“Kami ingin mengapresiasi bahwa yang bergerak dan yang berbuat itu mereka. Kami tentu memahami bahwa yang memaknai hidup ini sebetulnya bukan kita, yang memaknai itu mereka. Kalau mereka nggak ada itu kita semuanya nothing,” katanya.
Ia menilai, keberadaan para penggerak di tingkat akar rumput justru menjadi kunci keberhasilan berbagai program. Tanpa mereka, menurutnya, banyak inisiatif bisa berhenti atau tidak berjalan optimal.
Catatan Kritis
Sementara itu, pengamat sosial dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Sujito, menyampaikan catatan kritis sekaligus apresiasi terhadap setahun kepemimpinan Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, dan Wakil Wali Kota Wawan Harmawan.
Menurut pria yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM ini, pasangan Hasto-Wawan ini memiliki ide besar yang menantang untuk diimplementasikan di tengah dinamika sosial dan birokrasi kota.
“Saya ingat cara yang dipakai Hasto: teknokrasi dan birokrasi. Ide ini tidak mudah,” ujar Ari Sujito, di Taman Budaya Embung Giwangan.
Ia menambahkan ide besar Hasto-Wawan mencakup rekonstruksi sosial agar Jogja tetap aman, nyaman, dan bergerak tanpa rasa ketakutan.
Ari menekankan tantangan utama terletak pada kemampuan birokrasi menerjemahkan visi pimpinan menjadi aksi nyata. Di era digital saat ini, di mana generasi muda bebas mengekspresikan diri, kota diharapkan mampu mengelola sumber daya secara optimal meski menghadapi keterbatasan fiskal.
“Masyarakat harus dijadikan subjek, jangan objek. Pengalaman Pak Hasto bisa dilembagakan dan harus saling support,” tegas Ari.
Refleksi setahun pemerintahan Hasto-Wawan dipandang bukan sekadar evaluasi, melainkan pijakan untuk langkah besar berikutnya. Rekonstruksi sosial yang digaungkan pasangan kepala daerah ini membutuhkan konsistensi waktu yang panjang.
Dengan semangat nata urip bareng dan keterlibatan aktif warga—seperti dalam program Jumilah—Ari menilai Jogja berpotensi menuju peradaban baru yang lebih tertib, bersih, dan manusiawi. Meski perubahan belum sempurna, langkah-langkah kecil yang berkelanjutan menjadi kunci kemajuan kota.
Ari Sujito menekankan pentingnya integrasi ide besar dengan dukungan birokrasi dan partisipasi masyarakat. Setahun Hasto-Wawan memimpin menjadi fondasi perubahan sosial berkelanjutan bagi Kota Jogja.
Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan di Taman Budaya Embung Giwangan digelar dengan dukungan Bank BPD DIY dan Harian Jogja.
MEREKA YANG MEMAJUKAN JOGJA
Dalam satu tahun kepemimpinan Hasto Wardoyo dan Wawan Hermawan sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jogja, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja memberikan penghargaan kepada sejumlah pihak yang berjasa memajukan kota ini.
KLASTER LINGKUNGAN DAN EKONOMI SIRKULAR
Penghargaan: Pangarsa Ekonomi Sirkular
Penerima: Bank Sampah Sekar Arum
Melalui integrasi budidaya maggot, pertanian sayur, hingga perikanan di wilayah Bausasran, Danurejan, komunitas ini sukses menghadirkan solusi konkret atas krisis sampah organik langsung dari hulu.
Penghargaan: Garda Depan Teladan Sampah
Penerima: Kuat Suparjono
Ketegasan dalam menegakkan SOP di Depo Pringgokusuman, Gedongtengen, menjadi kunci sukses edukasi bagi warga dan penggerobak untuk memastikan hanya sampah terpilah yang masuk.
Penghargaan: Petugas Pengawasan Pemilahan Sampah
Penerima: Jade Tri Atmaja
Pengawasan sosial yang konsisten di Purbayan, Kotagede, menjadi kunci keberhasilan penerapan kontrak sosial Mas JOS di tingkat warga.
Penghargaan: Petugas Pengawasan Pemilahan Sampah
Penerima: Yusran Reta
Kegigihan dalam memperkuat kepatuhan wilayah Purbayan, Kotagede, melalui pendekatan edukatif berhasil menekan volume sampah secara signifikan
Penghargaan: Srikandi Pilah Sampah
Penerima: Dian Wijaningrum
Peran sentral perempuan sebagai poros perubahan dalam pengelolaan limbah rumah tangga terbukti nyata melalui edukasi gigih dan inovasi di tingkat keluarga.
Penghargaan: Penggerak Bank Sampah Berkelanjutan
Penerima: Bank Sampah Suryo Resik
Berawal dari inisiatif lima perempuan di Suryodiningratan, Mantrijeron, Inovasi ekonomi sirkular dan tertib administrasi yang konsisten selama lebih dari satu dekade sukses mengubah sampah menjadi tabungan produktif serta kerajinan bernilai guna.
Penghargaan: Pemuda Inovator Lingkungan
Penerima: Satrio Herlambang
Berawal dari gang sempit di Cokrodiningratan, Jetis, inovasi pengelolaan sampah berbasis maggot BSF ini sukses menghadirkan solusi konkret atas darurat sampah organik dan mengubah limbah menjadi nilai ekonomi.
Penghargaan: Jawara Mas JOS
Penerima: Aman Yuriadijaya
Kunci keberhasilan Mas JOS terletak pada kolaborasi masif di tingkat wilayah yang menyatukan RT, RW, PKK, hingga pelaku usaha dalam mengelola sampah dari hulu. Sinergi ini terbukti efektif meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus menggerakkan kemandirian warga.
KLASTER EKOLOGI SUNGAI DAN KETAHANAN KOTA
Penghargaan: Pionir Sadar Sungai
Penerima: Komunitas Pemerti Sungai Code
Konsistensi dalam menjaga ekosistem dan kelestarian sungai terbukti nyata melalui aksi pembersihan serta edukasi warga bantaran yang tak kenal lelah.
KLASTER KESEHATAN, PENDIDIKAN, & KELUARGA
Penghargaan: Pendidik Adiwiyata Transformasional
Penerima: Binarsih Sukaryanti
Capaian membanggakan meraih penghargaan Adiwiyata Nasional Tahun 2025 menjadi bukti nyata komitmen SMP Negeri 8 Yogyakarta dalam menumbuhkan budaya peduli lingkungan secara konsisten sekaligus mencetak generasi muda yang berkarakter ramah lingkungan.
Penghargaan: Pendidik Adiwiyata Transformasional
Penerima: Nur Sri Widyastuti
Keberhasilan membawa pulang penghargaan Adiwiyata Nasional Tahun 2025 menjadi bukti nyata peran sekolah sebagai pelopor pendidikan karakter berbasis lingkungan di SD Negeri Gedongkiwo.
Penghargaan: Kader Kesehatan Inspiratif
Penerima: Nonoh Maryonah
Pemahaman mendalam mengenai esensi, penyebab, hingga cara pencegahan stunting terbukti nyata dalam keberhasilan menekan angka kasus di lingkungan warga.
KLASTER GOTONG ROYONG SOSIAL DAN KEMITRAAN
Penghargaan: Mitra Terbaik Bedah Rumah Gotong Royong
Penerima: Bank BPD DIY
Komitmen berkelanjutan ini menjadi wujud nyata peran perbankan dalam memperkuat semangat gotong royong sekaligus meningkatkan martabat hidup masyarakat.
Penghargaan: Mitra Terbaik Bedah Rumah Gotong Royong
Penerima: Pamella Supermarket
Komitmen berkelanjutan Pamella Supermarket dalam mendukung masyarakat Kota Jogja agar memiliki rumah layak huni menjadi salah satu penguat keberhasilan program bedah rumah di tengah masyarakat.
Penghargaan: Mitra Terbaik Bedah Rumah Gotong Royong
Penerima: Baznas Kota Yogyakarta
Baznas turut mengambil peran strategis dalam mendukung berbagai program Pemerintah Kota Jogja, salah satunya program bedah rumah melalui skema RTLH.
KLASTER TATA KOTA, BUDAYA, DAN PELAYANAN PUBLIK
Penghargaan: Juru Parkir Inspiratif
Penerima: Hardjita
Juru parkir ini dikenal konsisten menyosialisasikan dan menerapkan pembayaran parkir menggunakan QRIS karena lebih praktis, transparan, dan meminimalkan kebocoran retribusi.
Sumber: Pemkot Jogja
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Langgar Aturan Pelindungan Anak, Meta dan Google Dipanggil Menkomdigi
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement






