Kisah Kiper 16 Tahun Motoran dari Gunungkidul Demi Latihan PSIM Jogja
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Pembukaan program padat karya infrastruktur di Balai Manunggal Mrican, Giwangan, Umbulharjo, pada Senin (6/4/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja melalui program padat karya infrastruktur menyasar warga lokal, terutama yang berusia 40 tahun ke atas, sebagai upaya mengurangi pengangguran di kelompok usia yang sulit bersaing di pasar kerja.
Program resmi dimulai di Balai Manunggal Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Senin (6/4/2026), dengan total 10 titik lokasi di Kota Jogja. Jumlah titik lokasi meningkat dibanding tahun sebelumnya yang kurang dari 10, didukung tambahan tiga lokasi dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Pemda DIY.
Kepala Dinsosnakertrans Kota Jogja, Maryustion Tonang, mengatakan padat karya ini menekankan pemberdayaan tenaga manusia dibanding alat berat. Pekerjaan yang dilakukan bersifat sederhana, seperti pemasangan konblok dan pembuatan saluran air.
“Persyaratannya kalau padat karya infrastruktur itu yang digarap lebih dominan tenaga manusia, bukan alat. Jadi yang bisa ditangani manusia seperti konblok, saluran air sederhana. Tidak perlu teknologi konstruksi modern,” jelas Maryustion.
Peserta program diprioritaskan warga setempat dan tidak boleh mengambil tenaga kerja dari luar wilayah. Kelompok usia 40 tahun ke atas menjadi perhatian utama karena lebih rentan menganggur.
“Diutamakan yang usia 40 tahun ke atas. Karena angka pengangguran potensial sekarang itu di usia tersebut. Cari kerja baru sudah kesulitan, kalah bersaing dengan yang muda,” imbuhnya.
Setiap titik melibatkan sekitar 30 pekerja dengan masa kerja 25 hari, dan upah harian mulai dari Rp106.250 per orang. Penjabat (PJ) Sekda Kota Jogja, Dedi Budiono, menekankan program ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.
“Selain infrastruktur di wilayah bisa dibangun dan dipelihara dengan baik, sisi pemberdayaan masyarakatnya juga kena. Harapannya bisa meminimalisir dampak kondisi ekonomi dengan adanya tambahan pendapatan, meskipun sifatnya sementara,” kata Dedi.
Secara keseluruhan, program ini diperkirakan menyerap sekitar 400–450 tenaga kerja, termasuk tiga titik tambahan dari Pemda DIY.
Salah satu peserta, Suwarto, mengatakan masyarakat menyambut program ini dengan antusias. Di wilayahnya, pekerjaan berupa pembangunan talud penahan longsor sepanjang 14,5 meter dengan tinggi 4 meter di bantaran saluran irigasi. Talud ini penting untuk mencegah longsor yang dapat mengganggu aliran irigasi dan lahan pertanian di Tamanan dan Banguntapan.
Program padat karya ini diharapkan tidak hanya memperbaiki infrastruktur lingkungan, tetapi juga menjadi solusi jangka pendek dalam meningkatkan kesejahteraan warga lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Dispetaru Kabupaten Bantul menegaskan, pendirian bangunan di sempadan pantai harus mengikuti aturan merespons sejumlah bangunan yang rusak diterjang gelombang
Road trip makin populer di 2026. Simak 5 tips persiapan sebelum perjalanan jarak jauh
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.
Kemendagri membuka Program Masadagri Batch III 2026 dengan 65 posisi magang di 12 unit kerja. Pendaftaran dibuka 15-19 Agustus 2026 untuk mahasiswa D4 dan S1.
Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026