PENCEMARAN UDARA BANTUL : Warga Sekitar Pabrik Peleburan Alumunium Terganggu Asap

Asap tipis keluar dari bangunan kompleks peleburan alumunium yang berada di kawasan Dusun Banyakan II, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Rabu (20/5/2015). (Harian Jogja - Arief Junianto
21 Mei 2015 10:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Pencemaran udara di Bantul yang berasal dari sebuah pabrik peleburan alumunium dikeluhkan warga
Harianjogja.com, BANTUL-Keberadaan kompleks pabrik peleburan alumunium di kawasan Dusun Banyakan II, Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan dipersoalkan warga.

Pasalnya, sejak berdiri 2011 lalu, kompleks yang terdiri dari 3 unit bangunan permanen dan 2 unit bangunan semi permanen itu dinilai warga telah mencemari lingkungan.

Seperti diakui oleh Subroto, Kepala Dusun Banyakan II, ia sudah menerima beberapa keluhan warga terkait asap yang ditimbulkan dari proses peleburan alumunium pabrik tersebut. Dikatakannya, warga banyak mengeluhkan tebalnya asap pembakaran berbau menyengat, terutama ketika pagi hari.

"Apalagi pagi hari itu kan warga mulai beraktivitas. Itu
sangat mengganggu sekali," ujarnya saat ditemui di Balai Desa Sitimulyo, Rabu (20/5/2015) siang.

Tak hanya itu, ia pun sempat mendapatkan keluhan warga pemilik lahan persawahan yang terletak di sisi selatan bangunan kompleks pabrik. Mereka sempat mengeluhkan tanaman yang terdampak asap itu.

Diakuinya, asap tebal tersebut banyak meninggalkan bekas arang hitam di dedaunan. Akan tetapi, ia menolak menanggapi keluhan warganya tersebut. Ia meminta warganya untuk berkomunikasi dengan pihak pengelola pabrik itu
sendiri.

"Saya suruh warga saya untuk lapor sendiri ke pihak
pengelola. Entah mereka kemudian terima ganti rugi berapa," katanya.

Di awal berdirinya, ia mengaku sudah medapatkan kesepatakan dari pihak pengelola pabrik terkait pembangunan cerobong asap setinggi 7 meter.

Sejak awal, cerobong itu memang dimaksudkannya untuk menghindari pencemaran udara di sekitar lokasi pabrik.
Akan tetapi, hanya satu bangunan saja yang merealisasikan pembangunan cerobong tersebut. Cerobong itu pun tak bertahan lama.

Pasalnya pihak pengelola mengklaim penggunaan cerobong itu tak efektif untuk pembuangan asap sisa pembakaran. "Akhirnya sekarang cerobong itu tak dipakai lagi," imbuhnya.

Menurutnya, peleburan alumunium seperti itu seharusnya menggunakan tenaga listrik. Dengan begitu, asap yang ditimbulkan tak akan terlalu banyak sepert sekarang. Ia mengaku saran itu sudah berkali-kali diutarakannya kepada pihak pengelola, tapi nyatanya memang tak pernah digubris.

"Saya sudah berkali-kali menyampaikan keluhan warga. Tapi
tak pernah direspon [oleh pengelola]," gerutunya.

Hal itu dibenarkan oleh salah seorang pekerja pabrik yang enggan disebutkan namanya. Ia mengakui bahwa pembangunan cerobong ternyata tak cukup efektif dalam membuang asap sisa peleburan. Dengan adanya
cerobong, asap ternyata tak sepenuhnya keluar ruangan pembakaran.

Terpisah, salah satu mandor pabrik yang mengaku bernama Boneng membenarkan adanya keluhan dan protes dari warga tersebut. Diakuinya, pihak pabrik sudah memberikan ganti rugi terhadap masyarakat yang merasa dirugikan.

"Tapi jumlahnya berapa saya tak tahu pasti. Itu wewenang pimpinan," katanya saat dihubungi via telepon Rabu (20/5/2015).