Advertisement

PROSTITUSI PARANGKUSUMO : Geliat Kupu-Kupu Malam pada Ritual Selasa Kliwon

Arief Junianto
Rabu, 09 September 2015 - 22:20 WIB
Nina Atmasari
PROSTITUSI PARANGKUSUMO : Geliat Kupu-Kupu Malam pada Ritual Selasa Kliwon Sembilan orang PSK dan 2 orang pria pengguna jasa mereka tengah disidangkan di PN Bantul, Selasa (8/9/2015) pagi. (Harian Jogja - Arief Junianto)

Advertisement

Prostitusi Parangkusumo Bantul akan menggeliat pada malam Selasaelasa Kliwon

Harianjogja.com, BANTUL- Seolah menjadi  jamur yang terus merajalela, prostitusi di pesisir selatan Bantul seperti kian bergeliat saja. Salah satu titiknya ada di kawasan Parangkusumo.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Malam mulai tiba di Cepuri, Pantai Parangkusumo. Saat beberapa rumah warga satu per satu mulai memadamkan lampunya pertanda si pemiliknya sudah mulai terlelap, tidak dengan kawasan itu.

Senin (8/9/2015) malam, bertepatan dengan malam Selasa Kliwon. Hari dimana kawasan itu selalu ramai dikunjungi orang. Ritual labuhan. Begitu mereka menyebutnya.

Ternyata tak hanya jadi surga bagi para pegiat ritual, malam itu pun kerap menjadi surga bagi para pencari rupiah. Tak hanya penjaja makanan dan pernak-pernik ritual, tapi juga penjaja berahi juga turut kecipratan rejeki.

Salah satunya adalah Sulastri. Ibu rumah tangga berumur 55 tahun ini rela menempuh jarak puluhan kilometer dari rumahnya hanya untuk mengais rejeki di malam Selasa Kliwon.  Bukan untuk berdagang makanan atau pernak-pernik ritual. Ia rela datang ke Bantul karena tergiur betapa mudahnya mendapatkan uang saat acara itu, yakni dengan menjajakan diri.

Ia sadar, usianya tak lagi muda. Awalnya ia ragu, di usia 53 tahun para pria hidung belang pengguna jasanya tentu saja akan berpikir ulang. “Tapi ternyata tidak. Saat ke sini beberapa bulan lalu, peminat saya juga banyak lo,” ujarnya genit.

Di usianya yang sesenja itu, Sulastri sadar, pelayanannya pun tak akan seprima wanita usia 20-30an tahun. Tapi, demi rupiah, sekuat tenaga ia berlagak bak kupu-kupu belia.

Advertisement

Memang, jika dibandingkan dengan sesama kupu-kupu malam Selasa Kliwon yang berusia lebih muda, ia tak berkutik. Tak berani mematok tarif tinggi, ia pun pasrah menampung pria-pria kesepian yang tak berkantong tebal.

Dalam sekali transaksi, ia cukup mematok tarif tak lebih dari Rp50.000 saja. Itu pun, ia tak pernah menolak siapapun tamu prianya. Mulai dari perjaka tampan dan gagah, hingga kakek berumur senja pun dilahapnya. “Asal malam itu saya pulang bawa uang.”.

Tak jauh beda dengan Anik. Wanita paruh baya asal Karanganyar, Jawa Tengah ini pun mengaku hal yang sama. Usia senja tak pelak membuatnya tak bisa ngoyo dalam menjajakan berahinya malam itu.

Advertisement

Seperti wanita paruh baya lainnya, rejeki di malam Selasa Kliwon bukanlah hal asing baginya. Tapi malam itu, ia memang sedang tak begitu bergairah. “Mungkin karena usia.”

Sama dengan Sulastri, ia pun sadar diri. Di usianya yang tahun ini menginjak angka 50 tahun, ia enggan ‘jual mahal’. Bisa laku Rp50.000 saja, sudah ia anggap perolehan kelas kakap.

Tak heran, malam itu, ia pun menerima ajakan Wiryanto, seorang kakek berusia 55 tahun asal Klaten. Bukan perkara tampang, bukan pula persoalan kegagahan. Ia hanya mencari rupiah.

Setali tiga uang, pengguna jasa para kupu-kupu senja itu pun seolah tak lagi membedakan bagaimana bentuk fisik wanita yang dibayarnya sebagai pemuas hasrat. Bagi mereka, hal terpenting adalah pelampiasan hasrat bisa tetap dilakukan tanpa lagi dipengaruhi oleh tebal tipisnya isi dompet.  “Istri saya ada di rumah kakaknya. Cucu saya juga ada dua,” kata Wiryanto dengan polosnya.

Advertisement

Jauh lebih tua dari Wiryanto, Surani. Kakek berumur 66 tahun ini pun tak kalah bersemangatnya berburu kupu-kupu di malam ritual. Datang bersama kawannya, kakek asal Sleman itu memang awalnya hanya berniat menjalankan ritual di Cepuri. Tapi entah kenapa, setelah memasuki kawasan itu, libidonya pun terpacu.

Hebatnya, kakek yang sudah ditinggal istrinya meninggal beberapa tahun silam itu pun memilih, Novi, wanita yang umurnya jauh lebih muda darinya. Karena usianya yang masih muda, Surani pun rela merogoh koceknya lebih dalam. Ia rela membayar Novi dengan harga Rp100.000. “Saya butuh uang. Anak saya di Sukoharjo [Jawa Tengah] sedang sakit,” kata Novi pelan karena malu.

Geliat kupu-kupu malam Selasa Kliwon memang sudah menjadi cerita lama dalam lembar kelam bisnis prostitusi di kawasan pesisir selatan Bantul. Tak lagi terhitung berapa kali aparat melakukan razia dan penangkapan. Nyatanya, kupu-kupu baru macam Sulastri dan kawan-kawannya itu selalu terus muncul.

Tapi malam itu memang menjadi malam nahas bagi mereka. Razia petugas yang selalu gagal, malam itu seperti menjadi mimpi buruk bagi Sulastri dan kawan-kawannya.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Survei Indikator: Polri Masih Terpuruk

News
| Senin, 28 November 2022, 06:47 WIB

Advertisement

alt

Unik! Hindari Bajak Laut, Rumah di Pulau Ini Dibangun di Bawah Batu Raksasa

Wisata
| Sabtu, 26 November 2022, 17:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement