DESA TANGGUH BENCANA : Kulonprogo Tambah Dua Desa Tangguh Bencana

Para warga Desa Bugel, Kecamatan Panjatan berperan sebagai korban bencana alam saat digelar simulasi bencana dalam rangka pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) Bugel, Minggu (14/9/2014). (JIBI/Harian Jogja - Holy Kartika N.S.)
02 Februari 2016 13:02 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Desa Tangguh Bencana di Kulonprogo akan bertambah dua desa tahun ini

Harianjogja.com, KULONPROGO- Melanjutkan program pada tahun-tahun sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo akan menambah 2 desa tangguh bencana pada tahun 2016.

Selain pembentukan desa baru, 22 desa tanggap bencana lain yang sudah terbentuk juga akan ditingkatkan statusnya.

“Rencananya akan kami bentuk dua desa tangguh bencana baru,” ujar Gusdi Hartono, Kepala BPBD Kulonprogo pada Harian Jogja, Senin (1/2/2016).

Pembentukan desa ini merupakan salah satu program utama BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana di kalangan masyarakat sipil. Jumlah ini sekaligus akan menambah jumlah desa tangguh bencana di Kulonprogo menjadi 24 desa.

Selain itu, BPBD Kulonprogo juga akan meningkatkan status desa tangguh bencana yang telah dibentuk sebelumnya.

“Tak hanya sekedar kuantitas namun juga kualitasnya, “ujar Hapy Eko Nugroho, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulonprogo.

Peningkatan ini meliputi 2 desa tangguh bencana yang akan ditingkatkan menjadi berstatus madya dan utama.

Meski demikian, Gusdi menyatakan tidak tertutup kemungkinan jika akan ada lebih banyak desa tangguh bencana yang akan dibentuk. Pasalnya, BPBD Kulonprogo juga telah mengajukan 4 calon desa tangguh bencana lain yang pembentukannya akan dibiayai oleh provinsi.

Usulan ini hingga kini belum diputuskan dan masih dalam pembahasan. Sedangkan 4 desa yang disebutkan sebelumnya pasti akan dilakukan pembentukan dan peningkatannya karena pembiayaannya yang bersumber dari APBD.

Hapy menjelaskan bahwa hingga kini belum dipastikan desa mana yang akan dibentuk menjadi desa tangguh bencana berikutnya. Pasalnya, pemilihan ini harus mempertimbangkan berbagai hal salah satunya karakter masyarakat setempat serta tingkap pemahaman konsep tangguh bencana di masyarakat tersebut. “Memahamkan masyarakat paling sulit,” ujarnya.