DEMAM BERDARAH JOGJA : Dua Tewas, Dinkes Masih Tenang, Mengapa?

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro menugaskan pegawai untuk melakukan fogging atau pengasapan guna membasmi nyamuk Aedes aegypti penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD). Pegawai Dikes Bojonegoro itu, Kamis (21/1/2016), di sebuah lembaga pendidikan di Kabupaten Bojonegoro. Dinkes setempat meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi penyebaran DBD. (JIBI/Solopos/Antara - Aguk Sudarmojo)
05 Februari 2016 18:55 WIB Jogja Share :

Demam berdarah Jogja, jumlah tewas mencapai dua orang.

Harianjogja.com, JOGJA -- Hingga akhir Januari Dinas Kesehatan DIY mencatat terjadi 243 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di seluruh kabupaten dan kota di DIY. Dua di antaranya berakhir dengan kematian. Meskipun demikian Dinkes memandang kasus ini masih dalam ambang batas normal.

Dari 243 kasus yang terjadi, 44 kasus terjadi di Kota Jogja. 103 di wilayah Bantul dan 57 diantaranya di Gunungkidul. Di Kulonprogo terdapat 10 kasus DBD  dengan satu korban jiwa. Seorang korban jiwa juga terjadi di Sleman dari 29 kasus yang terjadi di kabupaten paling utara DIY itu.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinkes DIY Daryanto Chadorie Jumat (5/2/2016) mengatakan pihaknya sudah mengantisipasi akan adanya lonjakan kasus demam berdarah selama periode Januari hingga Maret 2016. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pada periode itu selalu terjadi lonjakan kasus DBD, tak hanya di DIY namun juga di berbagai daerah di Indonesia.

Chadorie menuturkan 243 kasus yang terjadi selama Januari terbilang masih jauh lebih sedikit ketimbang kasus yang terjadi di daerah lain. Pihaknya pun belum akan meningkatkan satus wabah DBD sebagai Kejadian Luar Biasa. Sampai saat ini, sudah ada tujuh provinsi yang menetapkan DBD sebagai KLB yaitu Gorontalo, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Banten.

“Jumlahnya sampai Januari lalu masih relatif landai, tapi kami tetap meningkatkan kewaspadaan karena masih ada Februari dan Maret,” ujarnya via sambungan telepon.

Peningkatan kewaspadaan itu seperti dipaparkan Chadorie ditindaklanjuti dengan berbagai tindakan. November lalu mereka sudah mengeluarkan surat edaran Gubernur DIY tentang kewaspadaan ledakan kasus demam berdarah. Pihaknya juga sudah menyiapkan tenaga medis dari tingkat Puskesmas untuk melakukan pemantauan dan sosialisasi di wilayah kerja masing-masing.

Sementara untuk masyarakat,  Chadorie mengatakan tindakan pencegahan demam berdarah bisa dilakukan dengan melakukan pemantauan keberadaan jentik nyamuk di tempat-tempat penampungan air. Selain itu tindakan Menguras, Mengubur dan Menutup tempat-tempat yang dapat menampung air juga dinilainya masih menadi langkah preventif yang efektif.