WISATA JOGJA : Eksotisnya Istana Air Tamansari Ngayogyakarta

Tamansari Jogja (Holy Kartika N.S/JIBI - Harian Jogja)
13 Februari 2016 17:20 WIB Jogja Share :

Wisata Jogja Tamansari semakin sering menghiasai dinding medsos instagram

Harianjogja.com, JOGJA-Siapapun yang mengingat kota Jogja, pastinya selalu memiliki kesan yang spesial. Tidak heran jika Joko Pinurbo, sastrawan kenamaan ini menyematkan sajak yang begitu terkenal tentang kota Pelajar ini, yakni “Jogja itu terbuat dari rindu, pulang dan Angkringan,” .

Sajak ini seolah mengingatkan pada setiap sudut kota Jogja yang mampu meninggalkan kenangan bagi setiap orang yang pernah singgah di kota berjuluk Kota Budaya ini. Kota yang dibangun Pangeran Mangkubumi ini memiliki sejarah panjang berkembangnya kerajaan Mataram. Sebagai satu-satunya daerah istimewa dengan kepala daerah seorang raja ini berbagai peninggalan masa lalu masih tersisa dan dapat dinikmati hingga saat ini.

Selain Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, bangunan-bangunan peninggalan raja-raja Mataram di masa lampau yang berada tak jauh dari kompleks istana ini juga menjadi daya tarik utama para pelancong dari seluruh nusantara maupun mancanegara.

Bangunan eksotis peninggalan raja Jogja pertama, Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang masih dapat dinikmati sampai saat ini adalah Tamansari Ngayogyakarta. Istana air ini merupakan tempat mandi para putri raja yang cukup tersohor. Belakangan eksotisme istana air ini terekam dalam berbagai foto para penghuni jagad maya.

Konon, istana air yang merupakan taman istana ini efektif digunakan para putri dan keluarga kerajaan lainnya sekitar tahun 1765-1812. Taman air ini semula begitu luas, berdasarkan catatan Wikipedia.com, taman ini memiliki luasan hingga sepuluh hektare. Kompleks istana ini semula terdiri dari gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan beserta pulau buatan dan lorong air bawah tanah. Dapat dibayangkan, betapa indahnya istana air milik Raja Jogja pertama ini.

Apalagi keindahan arsitektur taman ini semakin memberikan bayangan akan megahnya istana ini. Berbagai unsur budaya pada arsitekturnya menampilkan perpaduan budaya Eropa, Jawa, Hindu dan Islam. Hal ini membuktikan, bahwa Jogja sedari dulu sudah menampilkan kemajemukan masyarakatnya yang tidak memandang suku, agama dan ras.

Beberapa waktu lalu, Harianjogja.com berkesempatan mengunjungi taman air ini. Cukup dengan membayar tiket Rp5.000 saja untuk wisatawan lokal, setiap sudut taman air ini bisa dinikmati para pengunjung. Gapura pintu masuk ke istana ini menampilkan dua ekor naga. Memasuki kompleks pemandian putri raja ini, eksotisme bangunan berwarna putih tulang, mengelilingi setiap sudut istana.

Air di kolam yang disebut dengan Umbul Pasiraman ini berwarna hijau tosca dan menjadi daya tarik dari bangunan utama di taman ini. Tidak heran banyak foto-foto objek wisata ini di sosial media yang menampilkan jernihnya air berpadu dengan eksotisnya bangunan yang ada di sekelilingnya. Spot ini juga yang menarik Arum Puspita, mahasiswa asal Kalimantan yang menyempatkan diri berkunjung ke Tamansari pada Minggu, (7/2/2016) lalu.

“Salah satu hal yang membuat saya ingin ke sini [Tamansari] adalah kolam pemandiannya. Banyak foto-foto Tamansari di Instagram dengan angle kolam pemandian ini. Saya penasaran, apa iya, tempat ini sebagus di foto dan ternyata memang bagus,” ujar Arum.

Keindahan Pulau Buatan Di Kompleks Istana Air
Bukan hanya satu objek wisata taman pemandian keluarga kerajaan saja yang dapat dinikmati di kompleks ini. Setelah puas menikmati keindahan kolam pemandian, pintu keluar taman ini akan mengarahkan ke beberapa bangunan lainnya. Beberapa bangunan di kompleks Tamansari tersebut juga banyak diburu para iGers sebagai lokasi fotografi nan eksotis.

Istana Pulo Kenongo merupakan bangunan yang akan ditemui setelah pintu keluar dari Tamansari. Pulau buatan ini merupakan bangunan yang terdiri dari dua lantai. Sebuah pohon Kenanga yang tumbuh di atas bangunan ini menjadikan bangunan ini disebut dengan Pulo Kenongo.

[caption id="attachment_690798" align="alignright" width="370"]http://images.harianjogja.com/2016/02/HON-Pulo-Cemethi.jpg">http://images.harianjogja.com/2016/02/HON-Pulo-Cemethi-370x132.jpg" alt="Pulo Cemethi Tamansari (Holy Kartika N.S./JIBI/Harian Jogja)" width="370" height="132" /> Pulo Cemethi Tamansari (Holy Kartika N.S./JIBI/Harian Jogja)[/caption]

Di masa lalu untuk mengakses pulau buatan ini, para keluarga kerajaan akan menggunakan perahu atau sampan. Namun, di sisi selatan pulau ini juga terdapat tajug, sebuah bangunan menara ventilasi untuk terowongan bawah air. Terowongan ini juga merupakan jalan penghubung menuju Pulo Kenongo, selain lewat jalur air.

Perkembangan agama Islam di kerajaan ini juga tampak pada sisa-sisa bangunan masjid bawah tanah di pulau ini. Sumur Gumuling, adalah bangunan masjid bawah tanah yang merupakan bagian dari pulau ini. Lorong-lorong masjid yang begitu autentik dan unik, menjadikan bangunan ini sebagai salah satu spot foto paling ngehits di sosial media.

Bagian tengah dari bangunan ini merupakan ruang terbuka yang memiliki empat buah jenjang tangga yang saling bertemu di tengah. Pada bagian tengah itu, dahulunya digunakan oleh seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan. Di sekelilingnya, terdapat kolam yang digunakan untuk berwudhu.

"Tempat ini [Sumur Gumuling] cukup ngehits di Instagram. Unik karena ternyata dulu difungsikan untuk masjid dan berada di  bawah tanah," kata Putri Linda, wisatawan asal Jakarta.

Di sisi barat dari Pulo Kenongo dan Sumur Gumuling, adalah bagian terakhir dari jelajah kompleks The Royal Water Castle. Pulau buatan di sisi barat komplek ini, Pulo Cemethi merupakan reruntuhan bangunan yang cukup ikonik. Bangunan yang dahulunya digunakan Sultan sebagai tempat semedi, dapat dilihat dari utara Pasar Ngasem, pasar tradisional Jogja. Lokasi ini juga cukup sering digunakan sebagai tempat favorit para pemburu foto.

Kompleks wisata Tamansari Jogja ini mungkin dapat menjadi salah satu destinasi yang bisa kamu datangi akhir pekan ini. Nah, tidak ada salahnya, kan, melihat sudut lain romantisnya Kota Jogja dari jejak peninggalan kerajaan Mataram di istana air ini.

Akses Ke Tamansari Jogja

Objek wisata Tamansari merupakan destinasi yang cukup populer. Setelah mengunjungi Kraton Jogja, kamu bisa ke arah Pasar Ngasem untuk menuju destinasi berikutnya, yakni Tamansari Jogja. Dari Kraton Jogja bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15-20 menit atau naik becak.

Dari Kraton Jogja ambil arah ke Jalan Rotowijayan, yakni kompleks belanja oleh-oleh kaos khas Jogja. Setelah itu, belok ke kiri menuju arah Pasar Ngasem lalu ambil kiri ke Jalan Taman. Jika dari arah barat yakni dari Jalan Wates, bisa langsung menuju Jalan RE Martadinata lurus ke Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setelah itu belok ke kiri menuju Jalan Nyai Ahmad Dahlan lurus ke arah Pasar Ngasem belok ke kiri ke Jalan Taman.

Jika datang dari arah timur (Solo, Klaten dan sekitarnya), memasuki Kota Jogja dari Prambanan ke arah barat menuju ke arah Ring Road Timur lalu masuk ke Jalan Kusumanegara. Perjalanan dilanjutkan melewati Jalan Sultan Agung, lalu Jalan Nyai Ahmad Dahlan.

Atau bisa juga dari arah Jogja Expo Center, langsung ke arah Jalan Ngeksigondo menuju Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Menteri Supeni, Jalan Kolonel Sugiono lurus ke Jalan Sutoyo belok kanan ke Jalan Gading melewati Plengkung Gading masuk ke Alun-alun Selatan lalu ke arah jalan Taman.