MASYARAKAT EKONOMI ASEAN : AMKRI Dorong Mebel dan Kerajinan Kembangkan Inovasi

14 Februari 2016 11:21 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

Masyarakat ekonomi ASEAN menjadi tantangan yang harus dihadapi pengusaha mebel dan kerajinan

Harianjogja.com, JOGJA- Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong industri mebel dan kerajinan di wilayah itu untuk terus mengembangkan inovasi dan kreativitas.

"Hal itu perlu dilakukan agar dapat bersaing secara global terutama dalam pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN [MEA]," kata Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (Amkri) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Heru Prasetyo, Sabtu (13/2/2016).

Oleh karena itu, Amkri DIY berupaya membangun jaringan dengan pemangku kepentingan lain seperti pemerintah, asosiasi-asosiasi yang berhubungan dengan perdagangan dan industri, perguruan tinggi, dan perbankan.

"Kolaborasi itu menjadi kata kunci untuk industri mebel dan kerajinan terutama di wilayah Yogyakarta bersaing dan memenangi kompetisi terutama di kawasan ASEAN," kata Heru.

Untuk itu, DPD Amkri DIY bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berikhtiar menyusun Peta Jalan Kriya Nusantara yang akan diformulasikan dalam Seminar Kerajinan Nasional di Jogja pada 16 Februari 2016.

"Seminar yang menampilkan pembicara utama Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Simanjuntak itu akan dijadikan rekomendasi bagi arah dan kebijakan serta pengembangan industri kerajinan nasional," kata Heru.

Kepala Bidang Aneka Kerajinan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Amkri Hiero Prabandono mengatakan saat ini Indonesia menempati posisi ke-12 sebagai pengekspor kerajinan.

Padahal, kata dia, Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan kebudayaan yang beragam karena multietnik dan adat.

"Indonesia seharusnya bisa menjadi pengekspor utama produk kerajinan. Ironisnya, Indonesia kalah bersaing dengan produk kerajinan dari Vietnam, negara tetangga yang masih muda serta lebih kecil jumlah penduduk dan keragaman etnisnya," kata Hiero, seperti dikutip dari Antara.

Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan bahan baku kerajinan yang jauh lebih banyak dibandingkan Vietnam. Namun, nilai ekspor kerajinan Indonesia masih di bawah Vietnam.

"Nilai ekspor Indonesia masih berada pada kisaran dua miliar dolar AS per tahun, sedangkan Vietnam sudah tembus empat miliar dolar AS per tahun," katanya.

Ia mengatakan kesepakatan MEA sebagai pasar bebas arus barang dan orang sudah dijalankan per awal tahun 2016, di tengah keadaan pasar kerajinan dan mebel Indonesia yang semakin turun.

"Hal itu yang memacu Amkri untuk ikut berkontribusi nyata melalui program kerja dan pengembangan industri mebel dan kerajinan Indonesia," katanya.