SEKOLAH JOGJA : Ini Cara MAN 2 Kembangkan Afektif & Psikomotor Siswa

Ilustrasi pelajar SMA. (JIBI/Solopos - Antara)
22 Februari 2016 01:20 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Sekolah Jogja, MAN 2 memiliki cara mengembangkan berbagai potensi siswa.

Harianjogja.com, JOGJA-Orang tua semakin sadar potensi anak yang perlu dikembangkan, bukan hanya potensi kognitif, melainkan afektif, psikomotor. Ditambah lagi, semua potensi akan berkembang optimal ketika diikuti dengan sikap disiplin.

Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Jogja, In Amullah, pada Kamis (18/2/2016), Dalam masa tumbuh kembang, setiap remaja seharusnya diberi kesempatan menggali, mengenali dan mengembangkan potensi pribadi. Ketika menyadari seorang anak atau siswa didik memiliki potensi kognitif yang minim atau rata-rata, sekolah membantu mengarahkan siswa kepada potensi mereka yang lain, seperti pengembangan afektif dan psikomotor.

Yang disebutkan In Amullah tadi, merupakan salah satu cara MAN 2 Jogja untuk membuat siswa didik bisa menghargai kompetensi diri mereka masing-masing, tanpa perlu minder apabila mereka memiliki kemampuan kognitif yang berada di tingkat rata-rata atau biasa.

"Kami mencoba menggali potensi siswa didik kami sejak sedini mungkin, lalu kami juga melihat sejauh apa kemampuan kognitif yang mereka miliki. Tidak sedikit siswa kami diketahui memiliki kemampuan kognitif yang rata-rata cenderung rendah, namun memiliki potensi non akademik yang luar biasa di bidang olahraga, teater, broadcasting, dan lainnya," ujarnya.

Mengetahui hal ini, sekolah memilih mengarahkan siswa untuk mengembangkan potensi mereka, sekaligus memotivasi dengan sejumlah kebijakan. Pihaknya juga menyatakan tidak banyak menuntut kepada siswa untuk mampu jago dalam matematika, atau di mata pelajaran tertentu. Namun, saat sekolah mulai mendorong anak mengembangkan potensi, MAN 2 Jogja akan meminta siswa lebih disiplin dan ketat dalam berlatih, mengembangkan bakat, bahkan menggali potensi-potensi yang lebih besar lagi.

"Misalnya dia atlet taekwondo sekolah, kita tidak kemudian meminta nilai pelajaran harus bagus dan ini itu. Tapi ketika anak itu sudah berhadapan dengan taekwondo, jangan sampai dia telat latihan, kami juga mengontrol seperti apa presensi di tempat latihan, seperti apa semangat dan sikap mereka di sana, bagaimana proses mereka belajar di sana?, kami menerapkan disiplin ketat," terangnya.

Mengusung tagline sekolah 'The Real Islamic School', MAN 2 Jogja mencoba mempertahankan adanya sikap-sikap dan budaya islami di sekolah, untuk dapat diendapkan dalam keseharian anak. Misalnya saja dari segi pakaian, setiap siswi diminta mengenakan pakaian kurung dengan panjang minimal lima sentimeter di atas lutut, dan berkerudung yang menutup dada. Begitu pula para siswa yang berpakaian mengikuti kaidah islami dengan lebih simpel.

Selain itu sekolah juga membudayakan tadarus mandiri dan solat berjamaah, dalam hal ini sekolah juga menerapkan budaya yang sama juga dilakukan oleh guru, sebagai bentuk pendidikan melalui teladan atau contoh.

Sisi afektif tidak lepas dari sentuhan sekolah. Budaya senyum salam sapa semakin diterapkan nyata dengan kebiasaan bersalaman antar siswa ketika baru memasuki sekolah. Budaya saling salam ini dinyatakan telah mampu mengubah cuek siswa, menjadi lebih peduli kepada sesama siswa dan hormat kepada guru.

"Kami menyadari tagline The Real Islamic ini belum sepenuhnya kami miliki, tapi setidaknya kami telah berupaya menanamkan nilai-nilai hidup Islami kepada anak, baik dalam teknik mendidik, maupun berpenampilan dan bersikap. Kami ingin kebiasaan ini semakin lama bisa dijalankan dengan sadar, tanpa paksaan, serta menyatu dalam diri siswa," ujarnya.