PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA : Dari Kebersamaan Etnis Hingga Rezeki Kuliner

Walikota Jogja Haryadi Suyuti menyerahkan piala kepada para pemenang lomba karaoke dan dongeng dalam Bahasa Mandarin dalam malam penutupan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), Senin (22/2/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
23 Februari 2016 16:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke XI telah ditutup menyisakan cerita menarik tidak hanya bagi kaum Tionghoa tetapi juga masyarakat etnis Jawa di Jogja pada umumnya.

Harianjogja.com, JOGJA-Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke XI telah usai. Kemeriahannya menyisakan cerita menarik. Tidak hanya bagi kaum Tionghoa tetapi juga masyarakat etnis Jawa di Jogja pada umumnya.

Perayaan tahunan untuk memeriahkan pergantian tahun China atau Imlek ini memberi nuansa penuh kebersamaan dalam setiap malam yang dilalui selama lima hari sejak Kamis (18/2/2016) lalu. Kebersamaan antar etnis ini dimunculkan dari berbagai pertunjukkan.

Mulai dari naga sepanjang 159,5 meter motif batik yang dimainkan 250 personel TNI Angkatan Udara pada puncak PBTY di Alun-alun Utara Jogja, Minggu (21/2/2016) malam hingga pertunjukkan seni Musik Krumpyung dari Kabupaten Kulonprogo yang tampil bergantian dengan kesenian liong dan barongsai dari Perkumpulan Isakuiki Jogja pada malam penutupan PBTY XI, Senin (22/2/2016).

Ketua Umum PBTY XI Tri Kirana Muslidatun dalam sambutan penutupnya menyampaikan, keberadaan PBTY 2016 ini membawa dampak positif bagi masyarakat. Seperti halnya tenant kuliner, setidaknya hingga malam keempat PBTY digelar, total pendapatan yang diperoleh mencapai Rp1,8 miliar.

"Semoga sampai malam terakhir [Senin] ini bisa sampai Rp2 miliar," ungkap perempuan yang selama 10 tahun ditunjuk sebagai Ketua Umum PBTY ini.

Sejak hari pertama PBTY dibuka, banyak pembelajaran yang dapat dipetik dalam rangka meningkatkan seni hiburan dan budaya PBTY tahun depan. Salah satunya dilihat dari pertunjukan Jogja Dragon Festival (JDF) yang dilaksanakan Minggu malam.

"Tahun ini ada peningkatan kualitas performance dari peserta luar Jogja. Dari juara satu hingga empat didominasi luar Jogja. Ini tugas untuk Jogja untuk semakin meningkatkan performancenya," kata dia.

Dalam acara penutupan PBTY XI ini, dilakukan pula penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba karaoke Bahasa Mandarin dan lomba dongeng Bahasa Mandarin. Sementara lomba fotografi belum dapat diumumkan pada malam itu dan akan diumumkan melalui media massa.

"Harapannya PBTY 2016 memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pada tahun monyet 2567 ini membawa kesejahteraan dan kesehatan bagi warga Jogja," ungkapnya.