Laba Taspen Turun 16,1 Persen Jadi Rp1,04 Triliun, Ini Penyebabnya
Laba Taspen 2025 turun menjadi Rp1,04 triliun. Hasil investasi Rp9,87 triliun menjadi penopang di tengah penurunan pendapatan iuran.
Kemiskinan Jogja diatasi dengan berbagai cara.
Harianjogja.com, JOGJA – Meskipun jumlah penduduk miskin di DIY terus berkurang, kesenjangan antara warga berekonomi kuat dan lemah di DIY masih terbilang parah. Tahun 2015 DIY bahkan menempati peringkat kedua setelah Papua untuk kategori provinsi dengan rasio ketimpangan pendapatan (rasio gini) tertinggi di Indonesia.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Tavip Agus Rayanto Rabu (24/2/2016) mengatakan Pemda DIY sudah mengambil langkah untuk menyikapi ketimpangan dan kemiskinan yang terjadi di DIY. Gunungkidul dan mendapatkan prioritas tertinggi untuk program pengentasan.
Keputusan itu didasari pada beberapa pertimbangan seperti nilai inflasi, angka kemiskinan serta ketimpangan regionaldi masing-masing Kabupaten dan Kota. Hasilnya Gunungkidul emndapatkan prioritas pembangunan terbesar di DIY diikuti Kulonprogo, Bantul, Sleman dan Kota Jogja.
“Sederhananya semakin banyak warga miskin yang kita entaskan, maka rasio ketimpangannya semakin rendah,” kata Tavip.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Laba Taspen 2025 turun menjadi Rp1,04 triliun. Hasil investasi Rp9,87 triliun menjadi penopang di tengah penurunan pendapatan iuran.
Medan berat di Desa Watuduwur tak surutkan semangat Satgas TMMD Kodim 0708 Purworejo. Pembangunan jalan terus dikebut demi akses warga.
Kejaksaan Agung menjadwalkan ulang pemeriksaan Heru Pambudi sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi importasi tekstil di Ditjen Bea dan Cukai tahun 2018-2020.
Program biodiesel B50 diproyeksikan menghemat devisa Rp170 triliun pada 2026, menciptakan 2,1 juta lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Konflik AS dan Iran meluas ke Suriah dan Bahrain. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 11% dalam sepekan di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Radar GCI pertama Indonesia di Banjarbaru mampu mendeteksi objek hingga 515 kilometer dan memperkuat pengawasan ruang udara nasional secara real time.