Advertisement
Tradisi Sumber Rejo di Clapar Kulonprogo Terjaga Sejak Ratusan Tahun
Adat ledhekan di Clapar yang sudah menjadi tradisi ratusan tahun dilakukan, Jumat (16/1/2026) Harian Jogja - Khairul Ma'arif
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Di tengah perbukitan Menoreh, tepatnya di Padukuhan Clapar, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, sebuah tradisi ratusan tahun terus terjaga. Upacara adat Sumber Rejo bukan hanya ritual turun-temurun, melainkan wujud syukur warga kepada leluhur dan alam yang menjadi sumber kehidupan.
Pemangku Adat Clapar, Sutardi, menuturkan tradisi ini berakar dari masa Perang Diponegoro. Kala itu, seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro bernama Ki Sodlepo mengungsi setelah kediamannya di Tegalrejo dibakar Belanda. Pelariannya membawanya ke Clapar, wilayah yang saat itu masih gersang dan belum memiliki sumber air.
Advertisement
“Demi keberlangsungan hidup, Ki Sodlepo melakukan semedi memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa. Doanya dikabulkan dengan munculnya mata air yang kemudian dinamakan Sumber Rejo. Sampai sekarang, mata air itu menjadi tumpuan hidup warga,” ungkapnya.
Upacara Sumber Rejo menjadi bagian dari agenda Bersih Dusun yang digelar setiap dua tahun sekali pada bulan Rajab (Rejeb). Sutardi menjelaskan, masyarakat juga mengenalnya sebagai upacara adat ledhekan. Tradisi ini memiliki hubungan erat dengan syiar Islam yang diajarkan Ki Sodlepo. Ia memperkenalkan empat tahap penyucian yang dilakukan selama empat bulan berturut-turut.
BACA JUGA
“Rajab membersihkan lingkungan, mulai dari sumber air, rumah, hingga makam. Ruwah atau Syaban mengirim doa bagi para leluhur. Saat Ramadan membersihkan batin lewat puasa, dan Syawal waktunya saling memaafkan antarsesama manusia,” jelasnya. Empat langkah itu, kata Sutardi, diwariskan Ki Sodlepo dan terus dijaga warga Clapar hingga kini.
Dukuh Clapar II, Suko Raharjo, menuturkan rangkaian kegiatan tahun ini dimulai dengan pembersihan seluruh makam warga, termasuk makam Ki Sodlepo. Puncak acara digelar pada Jumat (16/1/2026) selepas salat Jumat, ditandai dengan kenduri di sekitar mata air Sumber Rejo.
Perayaan semakin semarak dengan pementasan seni budaya ledhekan dan tari jathilan. “Kesenian ini bukan sekadar hiburan, tetapi bagian penting dari adat adiluhung untuk menghormati keberadaan sumber mata air,” kata Suko.
Ia menambahkan, tradisi Sumber Rejo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Meski demikian, dukungan pemerintah yang mengalir baru sebatas tingkat kabupaten. Warga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah provinsi maupun pusat, terutama untuk penguatan fasilitas fisik di kawasan situs budaya.
“Warga berharap ada dukungan pembangunan fisik agar kelestariannya makin terjaga,” ujar Suko. Menurutnya, tujuan akhir dari seluruh rangkaian adat ini tetap sama: menghadirkan ketenangan dan ketenteraman hidup bagi masyarakat, atau yang dikenal dengan ayom ayem tata titi tentrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Museum Iptek Hainan Dibuka, Tawarkan Wisata Sains Imersif
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KA Bandara YIA-Tugu Beroperasi Normal Minggu 18 Januari 2026
- SIM Keliling Jogja Januari 2026, Ada Layanan Malam di Alun-Alun Kidul
- Jadwal Lengkap KRL Jogja-Solo Minggu 18 Januari 2026, Tarif Rp8.000
- Jadwal SIM Keliling Bantul Januari 2026, Ini Lokasi dan Waktunya
- Cuaca DIY Minggu 18 Januari 2026: Jogja Hujan Lebat, Sleman Petir
Advertisement
Advertisement




