BANDARA KULONPROGO : Perjuangkan Relokasi Gratis, Warga Terdampak Bandara Duduki Pemkab Bergantian

Warga terdampak pro bandara menggelar aksi damai untuk menuntut relokasi gratis di Setda Pemkab Kulonprogo sejak Senin (22/2/2016) lalu. (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
26 Februari 2016 11:55 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Bandara Kulonprogo akan memakan lahan milik warga, warga yang menginginkan relokasi gratis menduduki Pemka Kulonrogo

Harianjogja.com, KULONPROGO-Beberapa wanita, pria baik tua maupun muda duduk di bawah pohon di atas trotoar di depan kantor Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Kabupaten (pemkab) Kulonprogo.

Mereka adalah sejumlah warga terdampak bandara sedang duduk menanti kepastian nasib mereka mengenai relokasi gratis dari pemerintah sejak Senin (22/2/2016) lalu.

Berbekal tikar, warga yang berasal dari lima desa terdampak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu duduk dengan sabar menanti keputusan pemkab.

Berbeda dari aksi sejenis lainnya, sekumpulan orang ini melakukan aksi yang cenderung damai. Tak ada teriakan-teriakan tuntutan ataupun aksi ekstrem mogok makan sebagaimana aksi protes biasanya. Bahkan, tak satupun warga yang turun ke jalan dan mengganggu pengguna jalan lainnya.

Sebaliknya, sejumlah panganan dan minuman terhampar di antara mereka. Beragam jenis makanan mulai dari nasi, lauk pauk, kue kering, kue tradisional, buah-buahan, hingga keripik tersaji di hadapan sejumlah warga tersebut. Minuman yang dibawa pun tak kalah banyak dan beragam.

Selain beberapa kardus air mineral dan berbotol-botol minuman ringan, ada pula empat buah termos piknik warna-warni. “Termosnya isi kopi dan teh,” ujar Sugiyem, warga Dusun Kragon Ringgit, Desa Palihan, Kecamatan Temon, Rabu (25/2/2016).

Ia merupakan salah satu dari warga terdampak pro bandara yang sudah berhari-hari bertahan di sana untuk memperjuangkan relokasi gratis. Dari total 350 warga yang ikut serta dalam aksi ini, semuanya dibagi menjadi 3 sesi yang akan bergantian melakukan aksi ini. Sesi yang dibagi menjadi pagi, siang, dan malam ini akan diikuti oleh minimal 10 orang tiap sesinya.

Namun, toh tak semua warga yang mendukung bisa ikut melakukan aksi demo ini. Sejumlah warga yang ikut merupakan warga yang memiliki pekerjaan yang bisa ditinggal seperti peternak ayam ataupun petani cabe.

Sedangkan yang bekerja sebagai pegawai jelas tidak memungkinkan untuk ikut kecuali berkunjung di malam hari. Meski demikian, tiap sesi selalu ramai dipenuhi warga yang antusias mempertanyakan nasib mereka setelah bandara berdiri.

Berdasarkan pengamatan, tak tampak gurat-gurat ketegangan ataupun kebencian di wajah sejumlah warga ini. Sambil saling bercengkerama, mereka duduk santai seakan-akan sedang berada di halaman rumah. Meski demikian, tuntutan mereka tegas yakni relokasi gratis.

Ditemani dengan berbagai spanduk yang diikatkan ke pohon di sekitarnya, tertuang aspirasi warga yang tegas menyatakan diri pro bandara ini. Selain itu, ada pula spanduk putih panjang yang penuh dengan tanda tangan warga yang mendukung aksi ini, sebagai bukti bahwa mereka kompak akan tuntutannya.

Aksi ini mereka nyatakan sebagai aksi prihatin namun tetap tak mengganggu warga sekitar. Mereka juga sadar bahwa area yang mereka gunakan sepenuhnya merupakan fasilitas publik maka disediakanlah tong sampah dan sapu yang khusus dibeli untuk kepentingan aksi ini.

Dananya sendiri didapat dari sumbangan sukarela yang digunakan untuk mencetak spanduk dan membeli kebutuhan lainnya. Selain itu, terkadang dana tersebut juga digunakan untuk membeli konsumsi bagi warga yang sedang bergantian melakukan aksi.

Udiono, warga Dusun Bapangan, Desa Glagah, Kecamatan Temon menyebutkan bahwa berbeda dengan para ibu yang datang di siang hari, para pria selalu setia menginap di trotoar kantor pemkab Kulonprogo tersebut. Berbekal sarung yang digunakan untuk sholat, mereka duduk santai bercengkerama menanti kejelasan nasibnya.

“Tak pernah ada nyamuk selama kami menginap di sini,”ujarnya. Bahkan dengan aksi ini, ia mengaku mengenal berbagai warga desa lainnya dengan lebih akrab.

Ketika sedang berbincang, ada sebuah motor berhenti untuk kemudian si pengendara memberikan beberapa nasi kotak dan buah-buahan. Udiono menjelaskan bahwa memang begitulah faktanya. Mereka tak pernah kekurangan pasokan makanan ataupun minuman. Selalu saja datang warga silih berganti yang memberikan sumbangan konsumsi. Ia bahkan menjelaskan bahwa untuk rokok pun mereka selalu terpenuhi.

Ia juga menjelaskan bahwa beberapa warga yang ikut serta dalam aksi ini sebenarnya sudah berusia lanjut. Namun, keikutsertaan mereka tidak mendapatkan tentangan dari anak-anak mereka. Selama para orang tua tersebut bisa menjaga kesehatan, sang anak membiarkan saja.