HARI JADI GUNUNGKIDUL : Badingah-Immawan Kunjungi Dua Mantan Bupati

Benyamin dan Mustangid berkunjung ke rumah Badingah, Kamis (10/12/2015). (Uli Febriarni/JIBI - Harian Jogja)
25 Mei 2016 12:22 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Hari Jadi Gunungkidul diisi dengan berbagai kegiatan salah satunya dengan anjangsana

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Agenda Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-185 diisi dengan beberapa kegiatan. Salah satunya dengan melakukan anjangsana ke rumah bupati dan wakil bupati yang masih hidup.

Dalam silahturahmi ini tidak dilakukan bersamaan dan ada sejumlah pembangian. Untuk anjangsana, Bupati Gunungkidul lebih memilih mengunjungi mantan Bupati Soebekti Sunarto di Surakarta, Jawa Tengah, ketimbang mengunjungi mantan Bupati Suharto yang dulu didampingi Badingah di periode kepemimpinan 2005-2010.

Jatah berkunjung ke Suharto pun dilimpahkan ke Wakil Bupati Immawan Wahyudi.

Saat berkunjung ke rumah Suharto, Selasa (24/5/2016), Wakil Bupati Immawan Wahyudi mengatakan kegiatan ini, selain untuk memperkuat tali persaudaraan, juga untuk memberikan masukan demi perbaikan pemerintahan selama lima tahun ke depan.

“Silaturahmi ini sangat penting karena juga sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pemimpin terdahulu,” kata Immawan kepada wartawan, Selasa.

Dia menjelaskan, dalam puncak peringatan hari jadi yang jatuh pada Jumat (27/5/2016) esok, pemkab sudah mengundang mantan bupati dan wakil bupati untuk hadir dalam peringatan tersebut.

Dia pun berharap tali persaudaraan yang ada jangan sampai putus sampai kapanpun juga. “Kami harap kehadiran mereka dalam peringatan itu,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, mantan Bupati Suharto pun memberikan saran mengatakan, bupati dan wakil bupati saat ini untuk tetap teguh dan berkomitmen dalam mengembangkan Gunungkidul lebih baik lagi.

Dia tidak menampik, perkembangan di Gunungkidul sudah sangat baik. Hal itu bisa dilihat dari pesatnya pembangunan di segala bidang, terutama di sektor kepariwisataan. “Gunungkidul sudah tidak kalah dengan daerah lain,” katanya.

Meski demikian, Suharto meminta agar capaian ini tidak membuat pemimpin terlena. Perbaikan yang ada harus diimbangi dengan kinerja pemerintahan yang lebih baik sehingga bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Dia pun mulai membandingkan dengan saat dirinya memerintah. Untuk sekarang ini akan lebih mudah, karena setahun saat dirinya memimpin terjadi gempa hebat di 2006 sehingga energi difokuskan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Saya akui jadi kurang maksimal dan baru bisa melakukan penataan di akhir kepemimpinan,” ujarnya.