KULINER KULONPROGO : Renyahnya Undur-Undur Laut di Tepi Pantai

Seorang anak menunggu pedagang mengemasi undur-undur laut goreng yang bertekstur renyah di kawasan Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, beberapa waktu lalu.(Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
28 Mei 2016 08:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Kuliner Kulonprogo berupa olahan undur-undur

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Sudah pernah mencicipi krispi undur-undur laut? Camilan gurih ini sebaiknya tidak dilewatkan saat berkunjung ke obyek wisata Pantai Glagah di Kecamatan Temon, Kulonprogo.

Sejumlah pedagang di sepanjang jalur pejalan kaki menuju pemecah ombak Pantai Glagah menawarkan undur-undur laut setiap hari. Cara pembuatannya tampak sederhana. Undur-undur laut yang didapat dari nelayan sekitar dikupas kulihnya, dicuci bersih, dibalut dengan tepung bumbu, lalu digoreng sampai matang dan renyah.

Salah satu pedagang, Ida Priyani mengaku baru 1,5 tahun terakhir berjualan undur-undur laut. Sebelumnya, dia berjualan udang goreng dan aneka rempeyek serta keripik olahan hasil tangkapan nelayan. Terkadang dia juga menawarkan semangka saat musim panen.

“Kalau undur-undur ini baru. Untungnya lumayan,” kata dia kepada Harianjogja.com, awal Mei kemarin.

Camilan undur-undur laut dijual seharga Rp5.000 per kemasan. Setiap hari, Ida mengaku bisa mengolah hingga 20 kilogram (kg) undur-undur laut. Namun pada musim liburan, kebutuhan bahan baku bisa bertambah hingga menjadi 80 kg per hari. Ida menyatakan undur-undur laut yang sudah digoreng garing bisa tahan sampai seminggu. Wisatawan tidak perlu khawatir jika ingin membeli dalam jumlah banyak sehingga tidak bisa habis dalam sehari atau menjadikannya oleh-oleh.

Ida juga mengizinkan wisatawan mencicipi undur-undur laut olahannya. Dia mengungkapkan ada beberapa orang yang hanya datang dan mencoba lalu tidak jadi membeli. Meski demikian, Ida tidak mempermasalahkan.

“Sudah kami perkirakan besar untung dan ruginya, kok,” ungkap warga Dusun Glagah, Desa Glagah, Kecamatan Temon itu.

Pedagang lainnya, Ahmad Sukarjo mengaku juga menjual undur-undur laut goreng hingga luar Jawa, seperi Kalimantan dan Sumatera. Sistem promosi dan pemasarannya memanfaatkan jejaring media sosial. Meski demikian, pengiriman tersebut belum dilakukan secara rutin karena menyesuaikan ketersediaan pesanan dan bahan baku.

Berbeda dari Ida yang mendapatkan undur-undur laut dari nelayan sekitar Kulonprogo, Ahmad mengaku lebih sering membeli dari nelayan di Pantai Jatimalang, Purworejo, Jawa Tengah. Tiga kg undur-undur laut nantinya hanya menjadi satu kg jika sudah digoreng. Ahmad lalu mengatakan, kudapan itu bisa lebih awet renyahnya jika digoreng dua kali. “Kalau sekali goreng, dua jam berikutnya sudah lembek lagi. Kalau dua kali bisa sampai seminggu,” ujar dia.

Sementara itu, harga camilan undur-undur laut dinilai relatif murah oleh wisatawan. Salah satunya Prapti yang memutuskan untuk memberi lima kemasan. “Baru coba sekali ini. Rasanya gurih. Nanti mau buat oleh-oleh,” kata perempuan asli Jambi itu.