INFRASTRUKTUR KULONPROGO : Truk Bolak-balik Angkut Hasil Tambang, Jalan Blubuk Rusak Parah

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra KumalaWarga melintas di dekat jalan berlubang di Terminal Tirtonadi, Banjarsari, Solo, Senin (10 - 3). Sejumlah jalan di Solo mengalami kerusakan sehingga warga memasang benda atau tanaman sebagai bentuk protes.
28 Mei 2016 15:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Infrastruktur Kulonprogo perlu diperbaiki.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Warga Dusun Blubuk, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo mengeluhkan jalan di lingkungan setempat yang rusak parah akibat dilalui kendaraan pengangkut hasil penambangan andesit. Mereka menuntut jalan tersebut diperbaiki sehingga aman dan nyaman dilalui.

Kerusakan jalan diperkirakan mencapai tiga kilometer (km) menuju lokasi penambangan di Clapar, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulonprogo. Kondisi itu bukan hanya di Blubuk, melainkan juga wilayah Dusun Gegunung dan Pereng, Sendangsari. Seorang warga Blubuk, Sulardi mengatakan, perusahaan pengelola aktivitas penambangan sebenarnya telah berupaya melakukan perbaikan jalan. Namun, kualitasnya dinilai tidak sesuai standar sehingga cepat rusak kembali.

“Berbagai pembenahan dilakukan tapi akhirnya tetap seperti itu [rusak],” kata Sulardi saat dikonfirmasi pada Jumat (27/5/2016).

Sulardi memaparkan, warga berusaha menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah desa setempat. Mediasi dengan pihak perusahaan pun pernah dilakukan. Namun, semua itu seakan tidak membuahkan hasil. Padahal jalan rusak sudah tidak hanya menganggu kenyamanan penggunaan jalan, tetapi juga menyebabkan terjadinya beberapa kali kecelakaan.

Warga kemudian memasang puluhan papan dan poster bertuliskan keluhan tentang jalan rusak dan tuntutan untuk dilakukan perbaikan. Sulardi menegaskan, warga tidak menolak aktivitas penambangan. Namun, mereka hanya ingin jalan yang awalnya dibangun dengan swadaya masyarakat bisa kembali nyaman dilewati.

“Warga Blubuk cuma minta aspal, bukan corblok,” ujar dia.

Aktivitas penambangan andesit diketahui sudah berjalan sejak 2014 lalu. Awalnya, hasil penambangan yang diangkut berupa batu yang telah dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Hanya saja, belakangan ini truk tampak mengangkut batu gelondongan. Warga Blubuk lainnya, Eko Supriyanto kemudian berharap ada peninjauan ulang terhadap izin penambangan tersebut, termasuk kejelasan terkait batas tonase kendaraan pengakut hasil penambangan. Menurutnya, kerusakan jalan bisa dicegah jika aturan itu ditaati.

“Dulu pernah ada rambu tonase, tapi lalu entah ke mana,” ucap Eko.

Sementara itu, pihak perusahaan pengelola aktivitas penambangan belum bisa diminta keterangan untuk menanggapi keluhan warga. Salah satu perwakilan perusahaan bernama Heri mengaku sedang rapat sehingga tidak bisa diganggu. “Maaf sedang meeting,” katanya singkat saat dihubungi pada Jumat sore.