WARGA TOLAK TPAS : Warga & Camat Gedangsari Kompak Dukung Penutupan Selamanya

29 Mei 2016 01:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Warga tolak TPAS juga disuarakan camat setempat

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Camat Gedangsari Muhammad Setyawan Indriyanto mendukung sepenuhnya penutupan Tempat Pembuangan Akhir Sementara (TPAS) di Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno. Pasalnya lokasi ini menimbulkan dampak adanya polusi dan bau yang dirasakan oleh warga Gedangsari di wilayah perbatasan.

(Baca Juga : http://www.harianjogja.com/baca/2016/05/26/warga-tolak-tpas-massa-dari-gedangsari-dan-gantiwarno-tutup-akses-masuk-ke-tpas-jogoprayan-723275">WARGA TOLAK TPAS : Massa dari Gedangsari dan Gantiwarno Tutup Akses Masuk ke TPAS Jogoprayan)

Dia menjelaskan, kesepakatan untuk menutup  TPAS dihasilkan usai dilakukan pertemuan di Balai Desa Jogoprayan, Jumat (26/5/2016) kemarin. Dalam pertemuan itu, pihak Klaten mengaku siap menghentikan aktivitas pembuangan sampah.

“Kalau bisa tempat ini ditutup selamanya, karena dampaknya sangat buruk,” kata Setyawan kepada wartawan usai menghadiri Upacara Peringatan Hari Jadi Gunungkidul ke-185 di Alun-Alun Wonosari, Jumat (27/5/2016).

Dijelaskannya, sebelum ada kesepakatan itu, antara muspika Gedangsari dan Gantiwarno sudah mengadakan pertemuan pada Selasa (24/5/2016). Diakui Setyawan, pertemuan itu ada kaitannya dengan pembangunan TPAS di perbatasan Gunungkidul. hanya saja, putusannya belum ada kepastian karena masih menunggu pertemuan antara Pemkab Gunungkidul dengan Klaten.

“Intinya kami menunggu, tapi kalau sudah ada kesepakatan ditutup saya ikut senang,” katan mantan Sekretaris Camat Semin ini.

Dia menilai, keberadaan TPAS memberikan dampak yang kurang baik. Apalagi dampak itu langsung dirasakan warga di Dusun Tamansari  dan Plesan, Desa Watugajah. Secara geografis, memang lokasi itu berada di wilayah Klaten, namun tempatnya mepet dengan wilayah Gedangsari. Bahkan akses jalan yang digunakan untuk masuk TPAS merupakan jalan di wilayah Gunungkidul.

“Jaraknya dengan rumah warga sangat dekat karena tidak lebih dari 100 meter. Jadi wajar jika warga kami ada yang melakukan penolakan,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Desa Watugajah, Dwi Ratna. Menurut dia, pertemuan dengan perwakilan dari Pemkab Klaten di Desa Jogoprayan diputuskan TPAS ditutup. Harapannya janji itu bisa ditepati sehingga segala aktivitas benar-benar dihentikan.

“Kalau dibuka lagi, kami akan siap demo terus,” katanya.

Dwi menjelaskan, sebagai bentuk aksi penolakan terhadap keberadaan TPAS, warga dari empat desa, meliputi Watugajah, Sampang, Karangturi dan Jogoprayan (dua nama terakhir masuk wilayah Klaten) menutup pintu masuk ke lokasi dengan potongan pohon bambu. Upaya ini dilakukan juga sebagai bentuk aksi protes karena tuntutan warga tidak dipenuhi. Apalagi dalam pengoperasiannya juga sempat melibatkan aparat keamanan untuk melakukan pengawalan truk pengangkut sampah masuk ke lokasi.

“Sebenarnya kami juga sudah meblokade akses jalan, tapi pembuangan itu pindah melalui akses jalan lain,” katanya.