KONFLIK PENAMBANGAN KULONPROGO : Penambang akan Bangun Corblok, Warga Ingin Aspal

Berbagai spanduk dan poster berisi sindiran, protes, dan tuntutan warga Dusun Blubuk, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, terpasang di sepanjang jalan menuju area penambangan andesit di Dusun Clapar III, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Senin (30/5/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI - Harian Jogja)
31 Mei 2016 11:15 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Konflik penambangan Kulonprogo dengan warga di Hargowilis Kokap belum menemukan titik temu

Harianjogja.com, KULONPROGO-PT. Harmak Indonesia sebagai pengelola aktivitas penambangan andesit di Dusun Clapar III, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap menjanjikan perbaikan jalan berupa corblok. Meski demikian, warga terdampak penambangan, khususnya di Dusun Blubuk, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih tetap menginginkan jalan aspal.

Manajer Operasional PT Harmak Indonesia, Ragil Triawan menyatakan perusahaannya siap bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan menuju area penambangan. Dia mengatakan, perusahaan masih mencari solusi paling tepat dan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. “Ini mau ke balai desa untuk koordinasi juga,” kata Ragil, Senin (30/5/2016).

Ragil memaparkan, PT Harmak Indonesia sebenarnya sudah merancang program pembangunan jalan jangka panjang. Pengecoran jalan dari Blubuk menuju area penambangan yang panjangnya diperkirakan mencapai 2,6 kilometer (km) nantinya dilakukan secara bertahap, yaitu 150 meter per tiga bulan. Realisasi rencana tersebut ditargetkan mulai pada musim libur lebaran atau sekitar awal Juli mendatang.

Menurut Ragil, jalan corblok lebih kuat dan awet dibanding aspal. Meski demikian, dia tetap akan mengomunikasikan tuntutan warga yang lebih menghendaki aspal kepada atasannya. “Permintaan warga akan kami sampaikan ke manajemen,” ucap dia.

Sementara itu, warga berharap perbaikan jalan dipercepat. Setidaknya, jalan yang awalnya dibangun dengan swadaya masyarakat itu bisa lebih nyaman dilalui saat hari raya Idul Fitri.

Namun, melihat hasil sampel pengecoran yang sudah ada di dua titik, warga merasa tidak puas karena dianggap kurang lebar. Salah satu warga Blubuk, Sulardi kemudian mengungkapkan jika warga akhirnya lebih memilih jalan aspal.

Sulardi mengatakan, kesepakatan antar warga dan perusahaan perlu diperbarui. Salah satunya mengenai batas tonase yang diijinkan untuk setiap armada pengangkut hasil tambang. Pasalnya, beban yang dibawa setiap armada ke diperkirakan tidak hanya enam ton, tetapi hingga 12-13 ton.

Dia menambahkan, sementara ini warga tidak ingin ada armada pengangkut hasil tambang yang melintas sebelum jalan diaspal ulang. “Kami tidak ingin menutup tambang. Setelah bagus, baru boleh lewat lagi,” ungkap Sulardi.

Warga Blubuk lainnya, Asyifa Damar Putri pun berharap perbaikan jalan segera dilaksanakan. Hal itu karena jalan rusak telah menyebabkan beberapa kecelakaan. “Kami merasa resah. Dulu saya pernah jatuh, adik saya juga,” ujar Asyifa.