Pemkab Gunungkidul Siapkan Rp168,7 Miliar untuk Gaji PPPK 2026
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp168,7 miliar untuk gaji PPPK 2026. BKAD memastikan pembayaran aman untuk lebih dari 4.000 pegawai.
Harga kebutuhan pokok untuk komoditas daging sapi stabil tinggi, namun tidak sejalan dengan harga sapi hidup yang turun
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Tingginya harga daging sapi ternyata tidak diiringi harga hewan. Sejumlah pedagang di Pasar Hewan Siyono, Desa Logandeng, Kecamatan Playen mengakui bahwa harga sapi malah menurun di kisaran Rp500.000 per ekor.
Para pedagang pun tidak tahun apa yang jadi penyebabnya. Namun kondisi itu sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Salah seorang pedagang sapi di Pasar Siyono, Suratno mengakui adanya penurunan harga.
Biasanya untuk sapi yang siap potong dijual Rp12,5 hingga Rp16 jutaan. Namun sejak beberapa minggu ini harganya menurun hingga kisaran Rp500.000 per ekornya. “Harga sapi tidak bagus karena harganya tidak bagus seperti dagingnya,” kata Suratno, Rabu (8/6/2016).
Meski adanya penurunan harga, ia tidak mau beralih dagangan dari sapi ke penjualan daging. Sebab untuk penjualan daging biasanya dilakukan oleh pedagang tertentu. Adapun pertimbangan lainnya, apabila dilakukan penyembelihan, para pemilik sapi butuh waktu lebih lama lagi untuk memasarkan barang dagangan.
“Kalau berbentuk sapi lebih cepat karena bisa langsung dijual. Sedang untuk daging, selain harus memotong juga harus menunggu banyak pembeli agar dagangan habis,” katanya.
Hal senada diungkapkan Giman, pedagang sapi asal Semin. Menurut dia, meski harga daging sapi sedang tinggi, namun hal tersebut tidak berlaku pada hewannya. Dia mengatakan, untuk sapi siap potong dengan ukuran besar, biasanya dipasarkan di harga Rp16 juta. Namun untuk saat ini, penjualnnya tidak sampai seharga itu, karena bisa lebih murah. “Memang harganya sedang turun,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Agung Gunawan, salah seorang peternak sapi di Dusun Sumbermulyo, Desa Kepek, Wonosari. menurut dia, harga sapi sedang tidak bagus. Dia mencontohkan, enam bulan lalu ia membeli sapi seharga Rp14 juta, namun untuk saat ini harganya tidak jauh beda.
Menurut Agung, kondisi ini jelas sangat merugikan, karena selama kurun waktu itu harus melakukan pemeliharaan dengan memberikan pakan dan kebutuhan lainnya.
Padahal untuk mencukupi kebutuhan pakan tidak didapatkan secara gratis. Jadi saat dijual dengan harga sama maka akan mengalami kerugian. “Tidak hanya dari materi, tapi juga akan mengalami kerugian tenaga untuk pemeliharaan,” katanya.
Sementara itu, pantauan harga daging di Pasar Argosari, Wonosari menunjukan penurunan. Salah seorang pedagang, Sri Hartini mengatakan, harga daging saat ini dipasarkan Rp118.000 per kilogram. Harga ini mengalami penurunan karena beberapa waktu lalu harganya sempat tembus Rp125.000 per kilonya. “Ada penurunan, tapi tidak dalam jumlah yang banyak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp168,7 miliar untuk gaji PPPK 2026. BKAD memastikan pembayaran aman untuk lebih dari 4.000 pegawai.
Harimau sumatra terekam kamera jebak di Hutan Harapan Jambi-Sumsel. Tim konservasi masih meneliti identitas dan populasi satwa langka tersebut.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp74.550 per kg, sementara telur ayam ras Rp30.100 per kg berdasarkan data terbaru PIHPS Bank Indonesia.
Harga minyak dunia turun lebih dari 6% dalam sepekan setelah muncul sinyal kesepakatan damai AS-Iran dan meredanya ketegangan di Selat Hormuz.
Akademisi UNY menyoroti ironi DIY sebagai Kota Pelajar. Sebanyak 13.669 anak usia sekolah tercatat tidak bersekolah di DIY.
Bulaksumur Run 2026 di UGM siap digelar dengan kategori 5K dan 10K. Start-finish di GSP, melibatkan alumni, masyarakat, dan UMKM.