Kekeringan Belum Berakhir, Bantuan Air Bersih Gunungkidul Berlanjut
BPBD Gunungkidul melanjutkan bantuan air bersih hingga Desember 2026. Lebih dari 3.950 tangki telah disalurkan kepada warga terdampak kekeringan.
Harga kebutuhan pokok untuk komoditas daging sapi stabil tinggi, namun tidak sejalan dengan harga sapi hidup yang turun
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Tingginya harga daging sapi ternyata tidak diiringi harga hewan. Sejumlah pedagang di Pasar Hewan Siyono, Desa Logandeng, Kecamatan Playen mengakui bahwa harga sapi malah menurun di kisaran Rp500.000 per ekor.
Para pedagang pun tidak tahun apa yang jadi penyebabnya. Namun kondisi itu sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Salah seorang pedagang sapi di Pasar Siyono, Suratno mengakui adanya penurunan harga.
Biasanya untuk sapi yang siap potong dijual Rp12,5 hingga Rp16 jutaan. Namun sejak beberapa minggu ini harganya menurun hingga kisaran Rp500.000 per ekornya. “Harga sapi tidak bagus karena harganya tidak bagus seperti dagingnya,” kata Suratno, Rabu (8/6/2016).
Meski adanya penurunan harga, ia tidak mau beralih dagangan dari sapi ke penjualan daging. Sebab untuk penjualan daging biasanya dilakukan oleh pedagang tertentu. Adapun pertimbangan lainnya, apabila dilakukan penyembelihan, para pemilik sapi butuh waktu lebih lama lagi untuk memasarkan barang dagangan.
“Kalau berbentuk sapi lebih cepat karena bisa langsung dijual. Sedang untuk daging, selain harus memotong juga harus menunggu banyak pembeli agar dagangan habis,” katanya.
Hal senada diungkapkan Giman, pedagang sapi asal Semin. Menurut dia, meski harga daging sapi sedang tinggi, namun hal tersebut tidak berlaku pada hewannya. Dia mengatakan, untuk sapi siap potong dengan ukuran besar, biasanya dipasarkan di harga Rp16 juta. Namun untuk saat ini, penjualnnya tidak sampai seharga itu, karena bisa lebih murah. “Memang harganya sedang turun,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Agung Gunawan, salah seorang peternak sapi di Dusun Sumbermulyo, Desa Kepek, Wonosari. menurut dia, harga sapi sedang tidak bagus. Dia mencontohkan, enam bulan lalu ia membeli sapi seharga Rp14 juta, namun untuk saat ini harganya tidak jauh beda.
Menurut Agung, kondisi ini jelas sangat merugikan, karena selama kurun waktu itu harus melakukan pemeliharaan dengan memberikan pakan dan kebutuhan lainnya.
Padahal untuk mencukupi kebutuhan pakan tidak didapatkan secara gratis. Jadi saat dijual dengan harga sama maka akan mengalami kerugian. “Tidak hanya dari materi, tapi juga akan mengalami kerugian tenaga untuk pemeliharaan,” katanya.
Sementara itu, pantauan harga daging di Pasar Argosari, Wonosari menunjukan penurunan. Salah seorang pedagang, Sri Hartini mengatakan, harga daging saat ini dipasarkan Rp118.000 per kilogram. Harga ini mengalami penurunan karena beberapa waktu lalu harganya sempat tembus Rp125.000 per kilonya. “Ada penurunan, tapi tidak dalam jumlah yang banyak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul melanjutkan bantuan air bersih hingga Desember 2026. Lebih dari 3.950 tangki telah disalurkan kepada warga terdampak kekeringan.
Industri pengolahan tumbuh 5,87% pada kuartal III/2026, melampaui ekonomi nasional 5,47%. Industri furnitur mencatat pertumbuhan tertinggi.
Kementerian PU meninggikan jalan Semarang-Demak dan membangun infrastruktur pengendali banjir untuk mengantisipasi rob jelang Nataru 2026/2027.
Pemprov Jateng mencatat 200.815 UMKM telah bersertifikat halal. Penguatan ekosistem halal didorong untuk mendukung pariwisata ramah Muslim.
Kota Callao di Peru membangun patung Paus Leo XIV setinggi 14 meter menjelang kunjungan sang paus pada 11–17 November 2026.
Erdogan meminta Trump mengakhiri ketegangan AS-Iran melalui diplomasi. Pemerintahan AS dilaporkan terbelah soal kelanjutan konflik.