Jangan Kalah dengan Minimarket, Warung Kelontong Perlu Perhatikan Tren Perubahan Konsumen

Kepala Bidang Pengembangan Sumberdaya UMKM Trikaryadi Riyanto (tengah) memberi sambutan dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM di Griya UMKM Jogja, Kamis (6/10/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
07 Oktober 2016 12:04 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Warung kelontong juga perlu menyadari tren perubahan konsumen

Harianjogja.com, JOGJA-Pengusaha warung kelontong perlu menyadari tren perubahan konsumen. Saat ini, konsumen lebih jeli dalam melihat kualitas barang dan kondisi kebersihan toko.

Regional Corporate Communication Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart Alfamidi) Firly Firlandi mengatakan, yang saat ini tidak disadari pelaku usaha kelontong adalah perubahan gaya hidup konsumen.

Menurutnya konsumen saat ini lebih jeli melihat kadar kadaluarsa suatu barang, jeli memperhatikan kualitas kemasan barang apakah ada botol yang rusak atau tidak, dan kritis terhadap kebersihan toko.

“Kami [Alfamart] sudah menangkap [perubahan gaya hidup] itu,” katanya pada Harian Jogja di Griya UMKM, Kamis (6/10/2016).

Dalam rangka mengajak pelaku bisnis ritel atau kelontong memahami manajemen ritel, Alfamart memberikan pelatihan manajemen ritel kepada pelaku UMKM di Kota Jogja.

Pelatihan yang digelar di Griya UMKM tersebut menjelaskan tentang materi manajemen penataan barang, pengaturan stok barang, manajemen keuangan (cash flow), serta tips mengamati tren pasar terkait produk yang diminati.

Firly mengatakan, pengusaha kelontong harus mampu memetakan, barang apa saja yang paling laku dipasaran karena barang yang paling laris harus memiliki stok yang banyak. Pencatatan sederhana atas transaksi yang terjadi setiap hari juga perlu dibukukan untuk melihat sejauh mana perkembangan bisnis yang dijalankan.

Salah satu trainer Alfamart Nur Hidayatulloh mengatakan, dibutuhkan banyak pertimbangan sebelum membuka warung. “Ada orang yang berpikir mau buka warung yang penting barangnya komplit. Padahal yang terpenting adalah barang apa yang paling dibutuhkan di lingkungannya,” kata dia di depan puluhan peserta pelatihan.

Pusat keramaian juga perlu menjadi pertimbangan. Jika dekat sekolah, pemilik warung bisa menyediakan makanan ringan dan alat tulis. Jika dekat rumah sakit, bisa menyediakan makanan, minuman, dan pulsa.

“Kalau terminal itu kan kawasan yang diburu waktu, jadi sediakan barang yang bisa dijual dengan harga pas biar tidak harus nyusuki [memberi kembalian]. Misalnya seribu dapat dua, ya meski risikonya untungnya kecil tapi transaksinya cepat,” jelasnya dia.

Kepala Bidang Pengembangan Sumberdaya UMKM Trikaryadi Riyanto berharap, pelatihan ini memunculkan kerjasama kemitraan antara toko modern dengan ritel kelontong. "Harapannya Alfamart mau membina warung kelontong yang ada di sekitarnya," katanya.