TIONGHOA JOGJA : Indonesia Masih Kekurangan Guru Bahasa Mandarin Lokal

Ketua Perkumpulan Sekolah Nasional Tiga Bahasa Se-Indonesia (Perstibi) Yudi Sutanto (Chen You Ming) ketika ditemui di Sekolah Nasional Tiga Bahasa Budi Utama, Sleman, beberapa waktu lalu. (Kusnul Isti Qomah/JIBI - Harian Jogja)
13 Oktober 2016 08:55 WIB Kusnul Isti Qomah Sleman Share :

Tionghoa Jogja mendorong pertumbuhan guru bahasa mandarin.

Harianjogja.com, SLEMAN—Jumlah guru Bahasa Mandarin di Indonesia masih belum ada separuh dari kebutuhan guru Bahasa Mandarin. Untuk memenenuhi kebutuhan tersebut, beberapa sekolah mendatangkan guru dari Tiongkok.

Ketua Perkumpulan Sekolah Nasional Tiga Bahasa Se-Indonesia (Perstibi) Yudi Sutanto (Chen You Ming) mengatakan, di  Indonesia ada sekitar 70 sekolah nasional tiga bahasa. Jika setiap sekolah minimal membutuhkan 10 pengajar Bahasa Mandarin, maka kebutuhan akan guru Bahasa Mandarin mencapai 700an orang. Untuk sekolah yang lebih besar, bisa membutuhkan 20 pengajar Bahasa Mandarin.

“Kondisinya saat ini jauh di bawah separuh dari kebutuhan sehingga solusinya mendatangkan guru bantu dari Tiongkok. Selain untuk memenuhi kebutuhan, guru bantu juga untuk transformasi dan meningkatkan kualitas pengajaran Bahasa Mandarin di Indonesia,” ujar dia ketika ditemui di Sekolah Nasional Tiga Bahasa Budi Utama, Sleman, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kurangnya guru Bahasa Mandarin berimbas pada berkurangnya jam pelajaran sehingga mengurangi mutu belajar. Hal itu juga akan berpengaruh pada standarisasi pelajaran untuk mencapai target Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) tingkat lima setelah lulus. HSK merupakan ujian internasional untuk pelajar Bahasa Mandarin.

“Sekolah di Jakarta dan Surabaya itu malah 90 persen pengajar Bahasa Mandarin impor. Kita harus lebih banyak mencetak orang-orang dengan kemampuan Bahasa Mandarin yang mumpuni karena sudah bisa bahasanya, belum tentu bisa penulisannya,” kata dia.

Ia menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi pembelajaran Bahasa Mandarin yang baru kembali bergairah pada tahun 2.000an. Untuk meningkatkan mutu bahasa, mereka juga harus pergi ke Tiongkok dengan harapan akan kembali ke Indonesia untuk mengajar. Namun, ada pula yang sudah berkemampuan Bahasa Mandarin tetapi tidak berkeinginan mengajar atau berkemampuan unuk mengajar.

Ia mengungkapkan, berbagai bentuk pengajaran Bahasa Mandarin berkembang di Indonesia. Ada enam Pusat Bahasa Mandarin di enam perguruan tinggi ada ada sekitar 30 perguruan tinggi yang membuka program studi Bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin tidak hanya diajarkan di tingkat SD, SMP, dan SMA.

Pengajaran Bahasa Mandarin di Indonesia, selain kekurangan guru juga menghadapi tantangan lainnya. Adapun tantangan itu keadaan masyarakat yang multietnis dengan latar belakang yang beragam, adanya kelompok-kelompok lain yang berbeda pandangan, lingkungan bahasa yang beraneka ragam.