HARI SURAT-MENYURAT : Apakah Jadi Presiden Itu Enak?

13 Oktober 2016 12:40 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Hari surat menyurat dimanfaatkan siswa SD di Kulonprogo untuk menulis surat untuk Presiden Joko Widodo

Harianjogja.com, KULONPROGO- Ratusan siswa SD menyambut peringatan hari surat-menyurat atau world post day dengan menulis surat untuk Presiden RI, Joko Widodo.

Kegiatan itu merupakan bagian dari kampanye gerakan menulis dengan tangan yang diselenggarakan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jogja bersama PT Standardpen Industries di Lapangan SD Negeri Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo, Rabu (12/10).

"Apakah menjadi presiden itu enak? Pak,apakah tidak capek jadi presiden?"
Pertanyaan itu dilontarkan Dian Juli Astuti, seorang siswa kelas IV SD Negeri Blubuk, Sendangsari, Pengasih.

Dia sedang menulis surat untuk orang nomor satu di Indonesia, Jokowi. Pesan yang disampaikan melalui tulisan tangannya sangat sederhana. Surat dari Dian bahkan bisa membuat siapapun yang membaca tersenyum karena saking polosnya.

Dian juga menceritakan bahwa sekolahnya terletak di wilayah pedesaan dan belum memiliki musala. “Pak Presiden dulu sekolah di mana? Kami sekolah di SDN Blubuk. Apakah Bapak Presiden mau datang ke sekolah kami?” kata dia dalam suratnya.

Surat buatan kakak kelas Dian juga tidak kalah uniknya. Siswa kelas V bernama Ilham itu penasaran dengan kebiasaan Jokowi memakai kemeja putih lengan panjang. Dia ingin tahu kenapa Jokowi suka melipat lengan bajunya.

Mengapa bapak suka melipat baju? Apakah menjadi presiden itu menyenangkan? Jika iya, apakah Bapak mau mengajari saya jadi Presiden?” ujar dia.

Lain lagi dengan surat yang ditulis Agus Ariyanto, siswa SD Negeri Serang, Pengasih. Dia meminta alat musik tradisional berupa kendang jaipong untuk mengembangkan bakatnya. “Setiap salat, saya berdoa semoga dibelikan kendang jaipong oleh orang tuaku tapi orang tua tidak mampu membelikannya,” tulis siswa kelas VI itu.

Kegiatan menulis surat untuk presiden RI diikuti ratusan anak dari sembilan sekolah di wilayah Kecamatan Pengasih, Kulonprogo. Diantaranya SD Negeri Kepek, SD Negeri Serang, SD Negeri Klegen, SD Negeri Clereng, SD Negeri Widoro, SD Muhammadiyah Girinyono, SD Negeri Kedungrejo, SD Negeri Gunung Dani, dan SD Negeri Blubuk.

Chef Executive Officer (CEO) PT Standardpen Industries, Megusdyan Susanto mengatakan, kegiatan itu diharapkan dapat melestarikan tradisi menulis dengan tangan. Berdasarkan riset Harvard University, ada lima manfaat menulis bagi anak-anak. Selain menambah ilmu dan wawasan, menulis juga bisa mengurangi stres, melatih kesabaran, belajar mengeluarkan pendapat secara bijak, serta merangkai kata.

“Selain mengasah kinerja otak, menulis juga dapat membantu anak-anak menjadi kreatif. Kami mengandalkan guru dan orang tua untuk melestarikan menulis dengan tangan,” ucap dia.

Ketua PFI Jogja, Oka Hamid berharap anak-anak gemar menulis sehingga terbentuk karakter mandiri dan kreatif. Hal itu juga bisa membentengi anak-anak dari pengaruh negatif tayangan televisi dan perkembangan gadget. “Gerakan menulis dengan tangan ini harus kita sebarkan untuk seluruh anak-anak Indonesia karena anak-anak adalah masa depan kita,” ungkap Oka.