Gempa M6,2 Guncang Sulteng, BNPB Catat Satu Korban Meninggal
Gempa M6,2 mengguncang Sulawesi Tengah pada Sabtu malam. BNPB mencatat satu orang meninggal dan dua gedung kantor rusak.
Cara merawat keris menjadi salah satu materi dalam kegiatan Serasehan bertajuk Ngaji Keris digelar di Raminten Lantai Ketiga Resto Hamzah Batik
Harianjogja.com, JOGJA - Serasehan bertajuk Ngaji Keris digelar di Raminten Lantai Ketiga Resto Hamzah Batik, Jalan Ahmad Yani, Kawasan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (23/10/2016) pagi.
Serasehan dihadiri para pemerhati dan pegiat seni budaya tosan aji dari berbagai daerah ini bertujuan untuk melestarikan budaya tersebut.
Budaya tosan aji merupakan pelestarian berbagai senjata tradisional yang terbuat dari besi yang dianggap sebagai pusaka. Ketua Pametri Wiji RM Puspodiningrat menjelaskan, serasehan dengan tajuk ngaji keris kemarin merupakan sosialisasi terhadap masyarakat tentang keris yang sudah ditetapkan sebagai peninggalan sejarah.
Menurutnya, kadang ada tanggapan negatif terhadap duwung atau keris, siang perlu diberikan sosialisasi tentang tosan aji.
"Harus punya komitmen untuk melestarikan warisan budaya ini.
Kalau tidak kenal dengan duwung maka pemahaman berbeda, bahkan rancu, sehingga akan menganggu pelestarian budaya tosan aji," terangnya dalam serasehan tersebut kemarin.
Pria yang biasa disapa Romo Kunyun ini menambahkan, keris untuk souvenir, dibuat khusus untuk cindera mata, sehingga tidak perlu ada nuansa magis.
Bersambung halaman 2
Berbeda dengan keris atau duwung yang mempunyai kedudukan tertentu, memiliki papan baik di masyarakat Jawa maka harus dirawat dengan baik. Ada bulan khusus untuk merawat pusaka tersebut yaitu bulan suro. Karena bulan ini memiliki filosofi awal bulan setiap tahunnya.
"Awal bulan harus bersih-bersih diri, supaya berjalan dalam tahun harapannya selamat. Ini disimbolkan dengan merawat pusaka. Tradisi ini juga berjalan di dalam kraton baik Solo maupun Jogja, membudayakan jamasan pusaka. Kalau di dalam kraton di bulan Suro ini diambil hari Selasa Kliwon dan Rabu Legi," terangnya.
Keris yang memiliki nilai historis, cara merawat atau warangka sama seperti memelihara memang agak berbeda. Romo mendetailkan, bahan yang biasa digunakan untuk memandikan antara lain, air bersih, jeruk nipis, warangan dan lerak.
"Warangan yang sudah jadi dicampur dengan air perasan jeruk nipis tadi, kemudian minyak pusaka, diberikan aroma sesuai dengan selera, aroma mlati dan lainnya. Kalau peralatan seperti kuas, sikat dan lap kain," kata dia.
Kegiatan serasehan tentang keris pusaka itu diikuti puluhan para penggemar keris dari berbagai daerah. Mereka saling berdialog dalam rangka merawat keris dengan baik dan benar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gempa M6,2 mengguncang Sulawesi Tengah pada Sabtu malam. BNPB mencatat satu orang meninggal dan dua gedung kantor rusak.
Harga pangan hari ini mencatat cabai rawit merah Rp67.350 per kg. Simak harga beras, telur, daging, gula, dan minyak goreng.
Babak baru perjalanan kuliner Indonesia dimulai dengan hadirnya ROSO Restaurant Yogyakarta di Grand Hotel De Djokja pada 17 Agustus 2026.
TNI AU menyiapkan enam pesawat untuk mengirim bantuan logistik dan tenaga kesehatan bagi korban gempa di NTT.
APNI mendukung BMKS gagasan Prabowo. Bursa mineral dinilai bisa mengubah posisi Indonesia dari price taker menjadi market maker.
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Selasa 19 Agustus 2026. Simak jam keberangkatan pulang pergi dan tarif hanya Rp12.000.