DEMAM BERDARAH GUNUNGKIDUL : Kondisi Buruk, Bocah Usia 4 Tahun Meninggal

Pengasapan atau fogging untuk mencegah demam berdarah dengue (DBD) di kawasan perumahan TNI AU Lanud Iswahjudi, Magetan, Jumat (5/2/2016). (JIBI/Solopos/Antara - Fikri Yusuf) Penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai mewabah di wilayah Magetan. Warga pun waspada dengan penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu, tak terkecuali penghuni perumahan TNI AU Lanud Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Maka langkah pencegahan pun dilakukan, termasuk pengasapan atau fogging untuk memutus rantai hidup nya
24 Oktober 2016 09:55 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Demam berdarah Gunungkidul membuat satu nyawa melayang.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Anak berusia empat tahun asal Dusun Sumberejo, Desa Ngawu, Playen, Gunungkidul meninggal dunia akibat demam berdarah (DB). Virus ganas ditemukan dalam kasus kematian korban.

Putri pasangan Seno Wibowo dan Pipit bernama Aqila Zahira Ramadhani meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari pada Sabtu (22/10/2016) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Petugas medis terlambat menyelamatkan korban, karena kondisinya sudah memburuk.

Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUD Wonosari Aris Suryanto menceritakan, korban mulanya berobat ke RSUD pada Jumat (21/10/2016). Keluarga membawa korban ke RSUD berdasarkan rujukan dari Puskesmas di Playen, lantaran mengeluhkan panas yang diduga akibat demam berdarah.

“Pada kedatangan mereka Jumat, dikabarkan keluarga itu sudah panas hari kedua,” kata Aris Suryanto, Minggu (23/10/2016).

Otoritas rumah sakit lalu menyarankan agar korban rawat jalan dan diminta kembali kontrol ke RSUD pada Sabtu (22/1/2016) untuk pengecekkan darah. Sesuai prosedur kata Aris, pengecekkan darah untuk menegakkan diagnosa demam berdarah baru dilakukan minimal di hari ketiga yang jatuh pada Sabtu.

Nahas menimpa bocah malang tersebut, pada Sabtu pagi ia mengalami muntah. Namun baru Sabtu siang sekitar pukul 12.00 WIB ia dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya.

“Korban sempat dibawa ke UGD [Unit Gawat Darurat], karena kondisinya tidak ada nadi dan tensi melemah,” ujarnya lagi.

Petugas medis mengambil tindakan resusitasi jantung dan paru-paru atau pertolongan pertama pada pasien yang mengalami henti nafas. Pasien kata dia sempat membaik dan dipindahkan ke bangsal perawatan. Namun sayang, di bangsal pasien mengalami shock hingga empat kali dan akhirnya meninggal dunia.

Rumah sakit memastikan, ia tewas karena terserang virus demam berdarah. Dokter yang merawat pasien kata Asri menemukan tingginya tingkat keganasan virus demam berdarah pada tubuh korban.

“Virulensi [tingkat keganasan virus] sangat tinggi. Biasanya pasien demam berdarah panas hari ketiga masih bisa diselamatkan makanya cek darah dilakukan di hari ketiga. Tapi kalau virus ganas beda kasusnya,” tutur dia.

Selain virulensi yang tinggi, ketahanan tubuh korban menurutnya juga sangat lemah. Aris menambahkan, keganasan virus demam berdarah di tiap wilayah endemis DB berbeda-beda. Semakin buruk kondisi lingkungan di suatu wilayah maka keganasan virusnya semakin kuat. Ia mengimbau warga tidak main-main dengan lingkungan yang buruk.

“Penyakit ini bisa dicegah kalau warga melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk [PSN],” tegas dia.Lingkungan Rumah Mempengaruhi
Sunarto, Ketua RT 29 Dusun Sumberejo yang merupakan lokasi tempat tinggal korban mengakui buruknya kondisi lingkungan sekitar rumah korban. “Rumah korban sendiri itu toko kelontong, banyak barang dan kelihatan gelap sekali. Lalu di depan rumahnya banyak limbah kotor yang jadi genangan air. Ada penampungan minyak goreng yang kadang tumpah ke saluran pembuangan air,” ungkap Sunarto.

Dalam waktu belakangan, warga RT 29 sudah jarang melakukan PSN.

“Dulu pernah ada foging gara-gara ada tiga warga sakit DB, tapi sudah lama enggak bersih-bersih,” paparnya.

Menurut Sunarto, latar belakang pekerjaan warganya yang beragam mengakibatkan keguyuban warga berkurang untuk melakukan kerja bakti seperti pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan sekitar.

Sunarto membenarkan, korban tewas akibat demam berdarah menurut informasi yang ia dapat saat melayat korban. Anak malang itu dimakamkan Minggu siang di pemakaman Desa Ngawu. Sebelumnya Dinas Kesehatan Gunungkidul menyebut, jumlah korban demam berdarah tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya sebanyak 898 hingga pertengahan Oktober. Dua orang dipastikan meninggal akibat demam berdarah.