BANDARA KULONPROGO : Pelaku Wisata Dijanjikan Pindah Dekat Rest Area, Tapi ...

Para pengusaha perhotelan di wilayah terdampak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) menemui tim appraisal di Balai Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Senin (9/5/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
02 Desember 2016 07:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Bandara Kulonprogo untuk pembangunan runway mulai tahun depan.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Lahan Paku Alam Ground (PAG) dijadwal akan dikosongkan pada 1 Januari mendatang guna pembangunan runway bandara. Namun, hingga kini sejumlah pelaku wisata di atas lahan tersebut belum tahu akan pindah ke mana.

Sebagian besar pelaku wisata di lahan PAG memang tidak mendapatkan relokasi. Sebagaimana diketahui, relokasi ditujukan kepada warga yang huniannya terdampak dan diberikan waktu hingga Maret 2017. Sumantoyo, salah satu pemilik hotel di lahan PAG dan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Glagah menjelaskan beberapa bulan lalu mengajukan keluhan akan relokasi usaha ini kepada pemerintah daerah.

Kala itu, sejumlah perwakilan mendapatkan jawaban akan direlokasi ke area tanah kas Desa Sindutan. Lokasi tersebut dipilih karena berdekatan dengan rest area sehingga potensial dijadikan tempat usaha.

”Pernah pertemuan dengan bupati lama dan jawabannya seperti itu,”ujar pria yang juga merupakan ketua Ketua Forum Komunikasi Penggarap Lahan Pesisir (FKPLP) ini, Kamis (1/12/2016).

Meski demikian, hal itu hanya sekadar menjadi janji belaka karena tak ada realisasi pasti. Pokdarwis sudah mencoba mengajukan surat resmi hingga 3 kali namun sama sekali tak ada jawaban dari pemerintah daerah. Meski mencoba menyampaikan keluhan ini kepada pemerintah desa, hal ini dianggap merupakan kewenangan pemerintah daerah.