BANDARA KULONPROGO : Ini Saran Kepala Desa untuk Pelaku Wisata

Belasan warga terdampak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) mengikuti pelatihan office tool di Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Kulonprogo, Jumat (4/3/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI - Harian Jogja)
02 Desember 2016 10:55 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Bandara Kulonprogo untuk pembangunan runway mulai tahun depan.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Proses pembangunan Bandara Kulonprogo terus berlanjut. Lahan Paku Alam Ground (PAG) dijadwal akan dikosongkan pada 1 Januari mendatang guna pembangunan runway bandara. Namun, hingga kini sejumlah pelaku wisata di atas lahan tersebut belum tahu akan pindah ke mana.

Kepala Desa Glagah, Agus Parmana menjelaskan jika surat pemberitahuan pengosongan lahan PAG telah diterima pemerintah desa.

“Sudah terima kemarin dari Angkasa Pura,akan segera kami sampaikan ke masyarakat,”jelasnya, Kamis (1/12/2016).

Dia mengakui memang banyak keluhan dari pelaku wisata yang masih bingung untuk pindah.

Meski demikian, ia menyarankan sejumlah pengusaha tersebut untuk memberi lahan baru saja dibandingkan harus bergantung dari pemerintah atau menggunakan lahan yang bersifat pinjam atau sewa lagi. Pasalnya, pelaku wisata sudah mendapatkan ganti rugi yang dirasa pasti mencukupi untuk pengadaan lahan baru. Agus menilai, sebagai pengusaha harusnya pengadaan lahan merupakan hal yang normal.

Agus menyebutkan jika masih banyak lahan potensial yang bisa dibeli untuk dijadikan lahan usaha di kawasan Desa Glagah. Jika tak ingin jauh dari kawasan bandara baru, sejumlah lahan di selatan jalan provinsi dianggap masih memadai untuk menampung para pelaku wisata. Hanya saja, ia mengakui jika tantangannya adalah harga lahan di kawasan tersebut yang saat ini melambung tinggi.

Sebelumnya, R. Sujiastono, Project Manager Kantor Proyek Pembangunan Bandara NYIA PT Angkasa Pura I menegaskan pengosongan lahan akan dimulai dari PAG pada 1 Januari mendatang. Adapun,proses pengosongan lahan PAG akan dimulai dengan mengirim pemberitahuan kepada kepala desa, hotel ataupun rumah warga yang tidak mengajukan relokasi. Lahan PAG sendiri sedianya akan dijadikan landasan pacu sehingga harus dikosongkan dan diratakan sekitar 500 meter x 4 kilometer.