ABRASI SUNGAI : Inilah Penyebab Titik Amblas Sungai Oya

Ist
06 Desember 2016 09:55 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Abrasi sungai terjadi di bantaran kali di Bantul

Harianjogja.com, BANTUL -- Kekhawatiran pemerintah kabupaten (Pemkab) Bantul terhadap kritisnya kondisi bantaran sungai-sungai besar di Bantul terbukti. Dalam dua pekan terakhir, abrasi sungai di sejumlah titik terjadi. Tercatat, total lahan seluas 15 hektar yang didominasi lahan milik warga amblas ditelan abrasi Sungai Oya.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/06/abrasi-sungai-ups-15-hektar-lahan-warga-amblas-ditelan-sungai-oya-774368">ABRASI SUNGAI : Ups, 15 Hektar Lahan Warga Amblas Ditelan Sungai Oya)

Kepala Desa Selopamioro Himawan Sadjati, menjelaskan banyaknya titik yang amblas itu sebenarnya sudah kerap terjadi tiap tahun saat permukaan Sungai Oya meninggi. Arus sungai yang kini berkelok-kelok yang menjadi penyebab.

Hal itu dipicu oleh pemasangan tanggul pengaman di Dusun Jetis yang menurutnya kurang tepat. Pasalnya, tanggul pengaman itu seharusnya dipasang mengikuti arah gerak arus sungai.

“Bukan malah dipasang miring begitu. Jadinya ya begini, arah gerak arus sungai menjadi berkelok-kelok. Padahal dulunya arah arus sungai itu lurus,” terang Himawan, Senin (5/12/2016).

Terpisah, Samsilah, pemilik rumah yang kondisinya paling kritis di Dusun Siluk I mengaku tak tahu persis kronologis ambrolnya tebing sungai di sisi timur rumahnya itu. Dikatakannya, Sabtu (3/12/2016) lalu, sekitar pukul 05.30 WIB saat bangun tidur, ia melihat kondisi tebing setinggi 5 meter itu sudah ambrol sepanjang lebih dari 15 meter.

“Mungkin kejadiannya sebelum subuh itu. Saya tidak mendengar apa-apa, wong saya masih tidur. Ketika itu memang sedang hujan,” katanya.

Begitu pun dengan tanda-tanda bakal amblasnya tebing itu, ia menegaskan tak ada pertanda apapun. Bahkan keretakan tanah yang biasa menjadi penanda tanah bakal amblas pun diakuinya tidak ada.

Ia hanya memastikan bahwa Sungai Oya sudah mengalami kenaikan permukaan sejak Jumat (2/12/2016). Ketinggian air ketika dikatakannya meninggi hingga 3 meter.

“Jarak permukaan air dengan bibir tebing itu hanya sekitar 1,5 meter saja,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul Wagiyo mengakui bahwa dari 12 sungai lintas kabupaten, baik sungai besar maupun kecil yang melintasi Bantul, hampir semuanya kini memang tengah dalam kondisi kritis.
“Itulah sebabnya, mutlak segera dilakukan normalisasi,” katanya.

Wagiyo menjelaskan, kondisi kritis sungai-sungai itu diantaranya memang disebabkan oleh adanya penyempitan di hampir seluruh titik bantaran sungai itu. Selain itu pendangkalan akibat menumpuknya sedimentasi pun juga berimbas pada menurunnya daya tampung sungai terhadap air.

Diantara beberapa sungai yang menurutnya kini tengah dalam kondisi sangat kritis itu adalah Sungai Winongo, Code, Gajah Wong, Opak, Bedog, Oya, dan beberapa sungai kecil macam Sungai Gawe dan SungaiCeleng. Kritisnya kondisi sungai itu jelas mengancam puluhan desa yang ada di sekitarnya. “Yang paling mengkhawatirkan adalah Sungai Winongo,” tambahnya.