UN 2017 : Didominasi Soal Esai, Guru Terkendala Tulisan Siswa

Petugas menata kardus-kardus berisi naskah Ujian Nasional Sekolah Dasar (UN SD) sebelum dimasukkan ke gudang penyimpanan sementara di Mapolres Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (12/5/2015). UN SD yang secara nasional bakal digelar serentak Senin (18/5/2015) hingga Rabu (20/5/2015) pekan depan, di daerah tersebut akan diikuti 17.001 siswa di 763 SD dan madrasah ibtidaiyah. (JIBI/Solopos/Antara - Destyan Sujarwoko)
08 Desember 2016 10:55 WIB Jogja Share :

UN 2017 akan menerapkan kebijakan baru.

Harianjogja.com, JOGJA - Bentuk tulisan siswa menjadi tantangan guru ketika materi yang dipakai dalam Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) nanti lebih banyak menampilkan soal esai atau uraian. Guru merasa was-was karena tidak semua siswa bentuk tulisannya bisa dibaca.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/07/un-2017-soal-esai-jadi-dominan-ini-alasannya-774687">UN 2017 : Soal Esai Jadi Dominan, Ini Alasannya)

"Ini menjadi tantangan kami para guru di setiap ujian yang memakai jawaban dalam bentuk uraian. Kadang ada siswa yang bentuk tulisannya itu enggak bisa dibaca sama sekali," papar Mohammad Ikhsan, salah satu guru di SMA Negeri 5 Jogja menuturkan kepada Harianjogja.com, Rabu (7/12/2016).

Imbasnya, menurut Iksan, tingkat pengoreksian yang dilakukan guru tidak dapat detail. Sementara untuk memaksakan agar siswa menulis agar bisa dibaca juga tidak mungkin.

Iksan berharap pada saat USBN nanti tidak serta merta menghapus begitu saja bentuk soal pilihan ganda.

"Kalau  menurut saya ga usah ada esai cuma tingkat kejujurannya harus ditingkatkan," tandasnya.

Terkait tingkat kesulitan, Iksan menilai antara bentuk pilihan ganda dengan esai itu bobot kesulitannya sama. Uraian terlihat sedikit lebih sulit karena dalam pengerjaannya butyuh banyak waktu karena siswa harus menjabarkan secara detail.

Kendati begitu, Iksan juga tidak memungkiri, soal dalam bentuk esai dapat melatih pemikiran siswa lebih mendalam. Pasalnya penuangan jawanan akan lebih terperinci sehingga siswa mau tidak mau harus berpikir lebih kritis. Imbasnya, pengaplikasian nyata pun lebih mudah dilakukan.

Terpisah, Kepala SMK Negeri 3 Wonosari Susianti mengungkapkan, pihaknya masih menunggu arahan teknis yang akan dilakukan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY terkait pematangan konsep USBN.