WISATA JOGJA : Macet, Jalur Alternatif Diperlukan

Harian Jogja/Desi SuryantoArus lalu lintas di Jalan Malioboro, Jogja padat merayap seperti terlihat pada Selasa (6 - 8). Kepadatan arus lalu lintas disebabkan banyaknya warga yang ingin berbelanja keperluan Lebaran di sejumlah pusat/pusat perbelanjaan.
13 Desember 2016 08:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Wisata Jogja masih menjadi magnet bagi turis.

Harianjogja.com, JOGJA -- Tingginya tingkat kunjungan wisata di Jogja saat libur panjang akhir pekan memberikan pekerjaan rumah bagi pemerintah. Misalnya pengadaan jalur alternatif untuk mengurai kemacetan.

Jasa perjalanan wisata juga kecipratan rejeki dari long week end kemarin. Udhi Sudiyono selaku Ketua Asosiasi Jasa Perjalanan Wisata (Asita) DIY mengatakan, sebagian besar travel mobil penuh. Bahkan, untuk bus harus mencari alternatif sampai luar kota.

“Artinya bahwa Jogja masih menjadi magnet pariwisata,” katanya, Senin (12/12/2016)

Namun di balik prestasi itu, ia menyoroti kendala yang di lapangan yaitu kemacetan di beberapa titik menuju objek wisata. Menurutnya hal ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah agar segera memikirkan terobosan dalam mengurai kemacetan di Jogja.

“Contoh dengan menyiapkan jalur alternatif ke objek wisata dengan petunjuk arah yang jelas, sehingga wisatawan tidak kesulitan untuk menemukan objek tersebut,” ujarnya.

Hal lain yang menurutnya juga penting adalah perlunya sosialisasi kepada pengelola obyek tentang carrying capacity. Jangan sampai sebuah objek mengalami kelebihan pengunjung sehingga membuat pengunjung tidak nyaman. Di samping itu perlu adanya kerja sama antara satu obyek dengan objek yang lain agar bisa terjadi penyebaran wisatawan.
Oleh-oleh Khas Jogja

Momentum long weekend yang terjadi selama tiga hari kemarin juga menjadi berkah bagi toko oleh-oleh khas Jogja. Beberapa toko bahkan sampai mengalami kehabisan stok, seperti yang terjadi di pusat oleh-oleh Kembang Jaya Jl. Laksda Adisutjipto. Salah satu karyawan yang enggan disebut namanya mengatakan, saat hari-hari biasa, tokonya bisa menjual sampai 200 kardus bakpia tetapi saat long week end seperti kemarin, permintaan meningkat.

“Kita sampai kehabisan stok. Tiap kali [bakpia] datang [dari pabrik], langsung habis, datang langsung habis,” katanya.

Namun kondisi tersebut tidak dialami penjual bakpia di Sorosutan. Sumadi selaku pemilik toko oleh-oleh SMD mengatakan, libur yang panjang tetap tidak mempengaruhi penjualannya.

“Tetap sepi. Hari ini tidak ada 10 orang yang beli,” katanya.

Ia tidak tahu penyebabnya apakah karena lokasi toko yang tidak strategis atau minat masyarakat pada bakpia yang sudah mulai menurun.