TRADISI NGURAS ENCEH : Sebagai Identitas Kerajaan Mataram Islam

Lokasi pelaksanaan Nguras Enceh (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
06 April 2017 11:22 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Tradisi Nguras Enceh Bakal Digelar Lagi Tahun Ini

Harianjogja.com, BANTUL -- Melestarikan tradisi Mataram Islam, abdi dalem Keraton Ngayogyakarta yang bertugas di kompleks Masjid Agung Kotagede bekerjasama dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Jagalan, Kecamatan Banguntapan menggelar Kirab Budaya Nguras Sendang Seliran.

Baca Juga : http://m.solopos.com/?p=807694">TRADISI NGURAS ENCEH : Digelar 7-8 April 2017

Sendang Seliran, terang Ketua Panitia Raden Tumenggung Pujodipuro, merupakan peninggalan masa Kerajaan Mataram Islam era Panembahan Senopati. Sendang itu sendiri kini sudah berujud dua buah yang masing-masing bernama Sendang Putri dan Sendang Kakung.

Sendang itu sendiri dulunya dipakai oleh keluarga kerajaan untuk membersihkan diri, mengingat kompleks masjid itu dulunya merupakan kawasan pesanggrahan bagi kerabat kerajaan. Barulah setelah era Hamengku Buwono I (1.601 Masehi), dibangunlah satu sendang baru untuk kalangan putri.

“Jadi, Nguras Sendang ini adalah ritual untuk membersihkan sendang. Dulu ritual ini dilakukan oleh abdi dalem,” tambahnya, Rabu (5/4/2017).

Sementara Kepala Desa Jagalan Gono Santoso mengakui, pihaknya berupaya total untuk mendukung digelarnya acara itu. Selain untuk melestarikan tradisi, kegiatan itu diharapkannya bisa meningkatkan jumlah kunjungan ke objek wisata kompleks Masjid Agung Kotagede tersebut.

Diakuinya, jumlah pengunjung di objek wisata itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan digelarnya kegiatan-kegiatan penunjang. Berdasarkan data buku tamu, jumlah pengunjung yang datang ke objek wisata itu setiap harinya berkisar antara 300-500 orang.

“Jadi selain untuk menegaskan identitas tradisi Kerajaan Mataram Islam, kegiatan ini saya harapkan bisa semakin mendongkrak jumlah kunjungan wisata,” katanya.