BENCANA KULONPROGO : Gerakan Tanah Tak Terprediksi, Hati-Hati Saat di Sawah!

Ilustrasi (ovcxramdani.blogspot.com)
15 April 2017 20:20 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Bencana Kulonprogo berupa longsor mengancam area pertanian

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Warga yang berada di Dusun Jeruk, Desa Gerbosari diminta untuk waspada saat beraktivitas di sawah.

Tim peneliti Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, Wahyu Wilopo menyarankan warga tidak beraktivitas di sawah sementara waktu. Sebab ada kemungkinan terjadi gerakan tanah yang mengakibatkan longsor dan tidak dapat diprediksi.

Hal ini terjadi karena air hujan yang turun dan terserap ke dalam tanah membutuhkan waktu untuk penjenuhan. Adapun air di dalam lahan sawah selalu berada dalam kondisi jenuh.

"Kami bukannya melarang ya, tapi kami juga akan mengomunikasikan kepada masyarakat setempat soal ini. Termasuk juga soal perlunya adanya tanaman keras di sawah, maksudnya yang akarnya tunggang, kalau tanaman keras tapi akarnya serabut tidak mengikat tanah," kata dia, Jumat (14/4/2017).

Dalam penelitian ini, tim mempelajari karakter longsor sembari membandingkan dengan longsor besar yang terjadi di Banjarnegara, Jawa Tengah dan Ponorogo, Jawa Timur, atau di daerah lain. Selain itu, tim menghitung potensi volume longsor sekaligus jarak luncuran longsor.

Wilopo menyatakan penurunan tanah secara drastis yang terjadi di lahan sekitar 300 meter dari lokasi, juga berpotensi untuk mendorong tanah di bawah. Secara umum dari hasil pencitraan lewat udara menggunakan pesawat nirawak, terlihat ada perubahan kenampakan dari bidang sawah, yang berada di lokasi longsor tersebut. Hanya saja, ia tidak menjelaskan lebih jauh.

Antisipasi

"Untuk dua rumah yang berada tepat di bawah sawah memang sebaiknya direlokasi, kecuali ada tindakan struktural untuk mengurangi gerakan," paparnya.

Tindakan struktural itu terbagi menjadi dua jenis, pengontrolan dan penguatan. Pengontrolan dilakukan dengan melandaikan lereng menata drainase menjadi lebih baik, penghijauan. Sedangkan pengutan dilakukan misalnya dengan bronjong, atau tindakan lain. Kalau dua tindakan ini tidak dilakukan, relokasi menjadi salah satu langkah yang akan direkomendasikan. Namun, Wilopo menegaskan, penjelasan mengenai kondisi lokasi longsor, relokasi, dan hal lainnya, akan disampaikan secara detail kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah maupun kepala dusun setempat, dalam waktu tidak lama lagi.

Salah satu pengungsi, Raminem mengaku, dia sebetulnya ingin sekali pulang meskipun ia mendapatkan kenyamanan dan keamanan, termasuk jaminan ketersediaan makanan di pengungsian. Namun ia masih takut akan terjadinya longsor susulan. Sejauh ini, kalau siang hari tidak hujan, ia akan melihat kondisi rumah dan sawahnya. Namun ia tidak ke sana apabila sedang turun hujan.

"Kalau mau pindah rumah, tidak punya tempat. Punya tanah hanya di lokasi longsor itu," tuturnya.

Sementara itu Siswiyanto mengatakan, ia berharap pemerintah bisa segera memberikan keputusan, agar keluarganya bisa tenang. Sempat ada usulan yang muncul dari pemerintah, bahwa mereka direlokasi ke tanah kas desa, namun anak-anaknya menolak, karena lokasinya yang jauh dari tempat mereka sekarang.